ARSITEKTUR KOMPUTER DAN STRUKTUR KOGNISI MANUSIA

Tugas Pertama Mata Kuliah Sistem Informasi Psikologi

1. Arsitektur Komputer

Arsitektur Komputer merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang perencanaan dan struktur kerja komputer. Mengkaji dan memberi deskripsi mengenai cara setiap perangkat keras komputer bekerja menurut fungsinya, sehingga dapat digunakan untuk membantu pengolahan data secara efisien dan efektif. Data mentah yang ada di-input ke dalam komputer untuk diolah oleh CPU dengan program yang ada, sehingga di peroleh informasi yang berguna dari data tersebut.

Silakan klik untuk keterangan lebih lanjut:

Arsitektur Komputer 1

Arsitektur Komputer 2

Gambar untuk Arsitektur Komputer:

gambar arsitektur komputer

Link Gambar: klik di sini

2. Struktur Kognisi Manusia

Struktur kognisi adalah suatu kerangka kerja yang digunakan individu (manusia) dalam memproses stimulus (informasi) yang diperoleh dari pengalaman empirik, kemudian diinterpretasikan dan diorganisasikan. Segala stimulus yang diterima panca indera yang diterima, diproses di otak untuk selanjutnya menghasilkan sebuah respons.

Silakan klik untuk keterangan lebih lanjut:

Kognisi

gambar struktur kognisi manusia

Link Gambar : Klik di sini

Kesimpulan:

Struktur kognisi manusia memiliki kesamaan dengan arsitektur komputer. Keduanya sama-sama memiliki alur dalam memproses data masukan (stimulus) untuk akhirnya di simpan (di Unit Penyimpanan Sekunder pada komputer atau Memori Jangka Panjang pada kognisi manusia) atau dikeluarkan menjadi informasi atau respon. Namun Komputer tidak dapat dijalankan secara manual, tetapi harus dijalankan oleh pengguna agar dapat menjalankan fungsinya. Sedangkan stuktur kognisi berjalan secara otomatis.

Sumber:

http://loverboy.blogdetik.com/2012/11/14/analisa-perbedaan-struktur-kognitif-manusia-dan-arsitektur-komputer/

http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_komputer

http://dunianyaamahasiswa.blogspot.com/2013/01/arsitektur-komputer.html

http://nurmalitaseptiani.wordpress.com/2009/12/13/resume-dasar-pemrosesan-komputer/

http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/teori-perkembangan-kognitif-jean-piaget-dan-implementasinya-dalam-pendidikan-346946.html

http://mkkskotapekalongan.wordpress.com/2011/12/19/teori-belajar-kognitif/

Iklan

Cuma Fangirl…

 

Hehe… cerpen pendek yang isinya curhatan…

Buat yang gak suka Korea gak usah baca dari pada pusing… Hehe…

 

(^ _ ^)

 

“Gak bosen-bosen,” celetuk ibu waktu liat anaknya melotot di depan laptop.

Santi cuma nyengir tanpa ada niatan untuk melirik ke ibunya. Begitulah kelakuan Santi kalau udah mantengin video boyband favoritnya, Super Junior. Mirip kayak orang yang lagi dihipnotis. Apapun yang mengganggu dia nggak peduli.

Ibu Santi sebenarnya kurang suka dengan perubahan anaknya yang dulu kalem jadi nggak karuan gara-gara kena virus K-Pop. Santi sering lupa waktu plus teriak-teriak kalau udah nonton dvd Korea. Nabung beratus-ratus ribu malah sampe nembus angka jutaaan cuma buat beli tiket konser, majalah atau dvd Korea. Padahal uang jajannya juga nggak banyak, dan Santi harus nahan lapar di kampus, sepatu gembel, tas gembel, dia nggak peduli. Untung Santi nggak suka majang poster, jadi cat tembok aman. Sedihnya, ibu Santi nggak cuma punya satu anak yang kena demam K-Pop. Adiknya Rima juga seorang K-Popers.

Santi sama Rima itu akur banget. Bagaimana nggak akur?! Sama-sama ELF, fans-nya Suju. Awal suka sama suju pun sama. Sama-sama suka Kim Heechul, terus sekarang suka sama Lee Sungmin. Paling ributnya masalah Sungmin. Rima nggak rela kakaknya suka Sungmin, padahal yang pertama suka Sungmin itu Santi. Rima sering nyuruh Santi biar suka Kyuhyun.

Ngomong-ngomong soal Kyuhyun, dia banyak yang suka. Yang ngaku nggak suka Suju aja sering bilang Kyuhyun tuh keren. Di dunia maya juga banyak banget fanfiction yang tokoh utamanya si Cho Kyuhyun itu. Ayu teman dekat Santi salah satunya. Ayu yang akrab dipanggil Ayuyung sama Santi, awalnya nggak suka Suju tapi akhirnya dia ketularan juga.

 

(^ _ ^)

 

Di tengah riuhnya suasana Food Court salah satu pusat perbelanjaan modern di Depok, dua cewek sedang asyik cekikikan di depan sebuah laptop. Meskipun cuma ada dua manusia di meja itu, obrolannya heboh, seakan-akan ada sepuluh orang di situ. Kadang pengunjung yang lain menoleh karena suara tawa mereka. Bisa tebak apa yang mereka omongin?? Yup, Suju, K-Pop, Kyuhyun dan sebangsanya.

“Ayuyung… Santi lagi falling in love, nih…”

“Sama siapa?” Ayu langsung antusias. Soalnya mereka jarang ngomongin soal cinta-cintaan.

“Sama Kyuhyun…” Ayu langsung kecewa.

“Bohong!” ujar Ayu ketus. Santi bingung kenapa Ayu jadi mirip kelakuannya kayak Rima, padahal biasanya dia nggak pelit soal Kyuhyun.

“Ih, apanya yang bohong, kan cuma bilang suka sama Kyuhyun, jangan cemburu gitu dong!”

“Bohong! Siapa?” tukas Ayu lagi dengan ketus.

“Kyuhyun…” Santi nyebut nama Kyuhyun dengan penekanan supaya Ayu percaya.

“Ck, gak seru nih…”

Beberapa detik kemudian Santi baru mengerti maksud dari tanggapan Ayu. “Oh, aku beneran jatuh cinta sama Kyuhyun karena suaranya. Baru lagi suka sama lagu I Miss You… Enak banget…”

“Yang realistis, dong!”

“Huh?”

“Suka tuh sama orang beneran…”

“Kyuhyun kan orang beneran!”

“Tapi dia kan artis!”

“Cinta mah sama siapa aja boleh.”

“Dasar!”

Ayu langsung fokus lagi ke laptopnya. Membuka folder demi folder yang tersimpan di sana, mencari video terbaru Kyuhyun yang dia punya. Begitu ketemu dia langsung buka dan nunjukkin video itu ke Santi.

“Sedih deh ngeliat Kyu begitu…” gerutu Ayu. Saat itu sedang diputar video sebuah reality show. Video Kyuhyun yang memeragakan bagaimana cara dia melihat gadis cantik saat ada di atas panggung.

“Emang kenapa yung?”

“Berarti dia sering begitu dong, kalo lagi manggung terus ada cewek cantik dia begitu… Sedih aku, San…”

“Nah, berarti Ayuyung yang nggak realistis!”

“Kok?”

“Cemburu gitu… dia kan bukan pacar kita…”

“Tapi aku iri… Harusnya kita noton langsung, nanti dia begitu ke kita.”

“Iya, bener…”

Yah… begitulah yang namanya fangirl. Bilang cinta sama artis, ngaku-ngaku pacar, istri bahkan anak dari artis yang dia suka. Kadang ketawa-tawa nggak jelas, teriak-teriak, nangis atau marah dan beringas.

 

(^ _ ^)

 

Geureul ijji mothaesuh apahanayo

geudaega isseul jariga yuhgin aningayo

Nareul wihan guhramyuhn chameul piryo uhbjyo

uhnjengan kkeutnabuhrilteni

 

Nae sarangi jejariro oji mothago

heullin noonmool mankeum muhlli ganeyo

Naneun ijuhyahajyo geudae nuhmoo geuriwuh

nareul apeuge haljineun mollado ijuhyo

 

Lirik lagu I Miss You dari SM The Ballad mengalun lirih dari headset yang terpasang di telinga Santi, sebagai lagu pengantar tidur. Sementara itu pikirannya penuh dengan berbagai angannya.

“Kok gue gak bisa suka sama orang yang ada di deket gue ya? Kalo bukan Sungmin paling Kyuhyun atau anggota Suju yang lain. Sedih amat kayaknya, kan udah hampir 21, harusnya udah ada calon suami.”

“Gue masih suka kok sama cowok. Tapi emang sama Kyuhyun, tapi lebih suka lagi sama Sungmin. Meskipun di mata gue mereka udah nggak sesempurna awalnya, tapi tetep gak bisa berenti. Dan bukan karena mereka artis dari Korea, terus kita yang orang Indonesia gak bisa cinta sama dia. Dia ada kok wujudnya, bukan cuma tokoh hayalan kayak di dongeng atau kartun. Dia lawan jenis gue kok, berarti kan gue normal.”

“Tapi emang sebatas sampe situ aja… Harapan bisa pacaran atau nikah dan sebagainya, paling cuma jadi fantasi doang… Jadi gue sebagai fans mereka tetep menganggap perasaan itu adalah salah satu jenis perasaan cinta. Cinta tak sampai… Hehehe…”

 

Santi tak kunjung terlelap. Dia putar lagi lagu I Miss You. Menurutnya lagu ini adalah lagu yang paling mewakili perasaannya saat ini.

 

Nae sarangi jejariro oji mothago

heullin noonmool mankeum muhlli ganeyo

Hanya saja cintaku tampak tak sanggup tuk meraihmu

Sebanyak-banyaknya air mata yang telah mengalir, tetap saja jauh

Naneun ijuhyahajyo geudae nuhmoo geuriwuh

nareul apeuge haljineun mollado ijuhyo

Aku harus melupakanmu, aku sangat merindukanmu

Walau kau tak pernah tahu betapa sakitnya, kukan melupakan

 

Ijuhya haneun guhn jiwuhya haneun guhn

Naegen nuhmoona uhryuhwoon irijyo

Untuk melupakanmu, bahkan untuk menghapusmu

Bagiku sangat sulit tuk melakukannya

 

_END_

 

LOGOTHERAPY

Logotherapy

 

Sesuatu hal yang tidak dapat dihancurkan oleh apapun dan dimiliki oleh manusia adalah kebebasan untuk memilih makna.. Dengan landasan fenomenologi, Frankl menjelaskan bahwa perilaku manusia tidak hanya diakibatkan oleh proses psikis saja. Menurutnya, pemberian makna berada di luar semua proses psikologis. Dia mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut dengan Logoterapi (berasal dari kata Yunani “Logos” yang berarti “makna”).

 

Logoterapi memandang manusia sebagai totalitas yang terdiri dari tiga dimensi; fisik, psikis, spiritual. Untuk memahami diri dan kesehatan, kita harus memperhitungkan ketiganya. Selama ini dimensi spiritual diserahkan pada agama, dan pada gilirannya agama tidak diajak bicara untuk urusan fisik dan psikilogis. Kedokteran, termasuk psikologi telah mengabaikan dimensi spiritual sebagai sumber kesehatan dan kebahagiaan (Jalaluddin Rahmat, 2004). Inti ajaran Frankl adalah pandangan bahwa menjalani hidup dimaksudkan untuk suatu tujuan tertentu. Motivasi utama dari manusia adalah untuk menemukan tujuan itu, itulah makna hidup.

 

Frankl menyebut dimensi spiritual sebagai “noos” yang mengandung semua sifat khas manusia, seperti keinginan kita untuk memberi makna, orientasi-orientasi tujuan kita, kreativitas kita, imajinasi kita, intuisi kita, keimanan kita, visi kita akan menjadi apa, kemampuan kita untuk mencintai di luar kecintaan yang fisik psikologis, kemampuan mendengarkan hati nurani kita di luar kendali superego, secara humor kita. Di dalamnya juga terkandung pembebasa diri kita atau kemampuan untuk melangkah ke luar dan memandang diri kita, dan transendensi diri atau kemampuan untuk menggapai orang yang kita cintai atau mengejar tujuan yang kita yakini. Dalam dunia spiritual, kita tidak dipandu, kita adalah pemandu, pengambil keputusan. Semuanya itu terdapat di alam tak sadar kita. Tugas seorang logoterapis adalah menyadarkan kita akan perbendaharaan kesehatan spiritual ini.

 

Menurut Frankl (dalam Trimardhany, 2003) logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainya erat hubunganya dan saling menunjang yaitu:

1. Kebebasan berkehendak (Freedom of Will)

Dalam pandangan Logoterapi manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggungjawab. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan dari (freedom from) kondisi-kondisi biologis, psikologis dan sosiokultural tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-kondisi tersebut. Kelebihan manusia yang lain adalah kemampuan untuk mengambil jarak (to detach) terhadap kondisi di luar dirinya, bahkan manusia juga mempunyai kemampuan-kemampuan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri (self detachment). Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian membuat manusia disebut sebagai “ the self deteming being” yang berarti manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.

 

2. Kehendak Hidup Bermakna (The Will to Meaning)

Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang utama adalah mencari makna. Ini berbeda denga psikoanalisa yang memandang manusia adalah pencari kesenangan atau juga pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi (Koeswara, 1992) bahwa kesenagan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna itu. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl bersifat menarik (to pull) dan menawari (to offer) bukannya mendorong (to push). Karena sifatnya menarik itu maka individu termotivasi untuk memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan berbagai kegiatan yang sarat dengan makna.

 

3. Makna Hidup (The Meaning Of Life)

Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang (Bastaman, 1996). Untuk tujuan praktis makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara manusia satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu. Setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya ( Frankl, 2004).

 

Dalam prakteknya logoterapi dapat mengatasi kasus fobia dengan menggunakan teknik “paradoxical intention”, yaitu mengusahakan agar orang mengubah sikap dari yang semula memanfaatkan kemampuan mengambil jarak (self detachment) terhadap keluhan sendiri, kemudian memandangnya secara humoritas. Logoterapi juga dapat diterapkan pada kasus-kasus frustasi eksistensial, kepapaan hidup, kehampaan hidup, tujuannya adalah membantu kita untuk menyadari adanya daya spiritual Yang terdapat pada setiap orang, agar terungkap nyata (actual) yang semula biasanya ditekan (repressed), terhambat (frustasi) dan diingkari. Energi spiritual tersebut perlu dibangkitkan agar tetap teguh menghadapi setiap kemalangan dan derita.

 

Logoterapi membantu pribadi untuk menemukan makna dan tujuan hidupnya dan menyadarkan akan tanggung jawabnya, baik terhadap diri sendiri, hati nurani, keluarga, masyarakat, maupun kepada Tuhan. Tugas seorang logoterapis dalam hal ini adalah sekedar membuka cakrawala pandangan klien dan menjajaki nilai-niliai yang memungkinkan dapat diketemukan makna hidup, yaitu nilai-nilai kritis, kreatif, dan sikap bertuhan. Dengan demikian logoterapi mencoba untuk menjawab dan menyelesaikan berbagai problem, krisis, dan keluhan manusia masa kini, yang initinya adalah seputar hasrat untuk hidup secara bermakna.

 

Dalam prakteknya, logoterapis membantu klien agar lebih sehat secara emosional, dan salah satu cara untuk mencapainya adalah memperkenalkan filsafat hidup yang lebih sehat, yaitu mengajak untuk menemukan makna hidupnya. Menemukan makna hidup merupakan sesuatu yang kompleks. Pada banyak kasus, logoterapis hanya dapat mengajak klien untuk mulai menemukannya. Logoterapis harus menghindar untuk memaksakan suatu makna tertentu pada klien, melainkan mempertajam kepada klien akan makna hidupnya.

 

 

Sumber:

http://www.psychologymania.com/2012/08/landasan-logoterapi.html

http://www.psychologymania.com/2011/09/logoterapi-sebuah-pendekatan.html

 

Behavior Therapy

Behavior Therapy (Terapi Tingkah Laku)

 

Behavior therapy atau terapi tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Pendekatan tingkah laku merupakan pendekatan yang dicetuskan oleh John Watson. Terapi tingkah laku lebih tepat dipandang sebagai terapi tingkah laku yang mencakup berbagai prinsip dan metode yang belum dipadukan ke dalam suatu sistem yang dipersatukan. Modifikasi tingkah laku telah memberikan pengaruh yang besar kepada lapangan pendidikan, terutama pada area pendidikan khusus yang menangani anak-anak yang memiliki masalah-masalah tingkah laku. Salah satu aspek yang paling penting dari gerakan modifikasi tingkah laku adalah penekanannya pada tingkah laku yang bisa didefinisikan secara operasional, diamati, dan diukur.

 

Dalil dasar pendekatan behaviorisme (tingkah laku)  adalah bawa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan menyingkapkan hukum-hukum yang mengendalikan tingkah laku. Behaviorisme ditandai oleh sikap membatasi metode-metode dan prosedur-prosedur pada data yang dapat diamati. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan  oleh lingkungan sosial budayanya karena pada dasarnya tingkah laku itu dipelajari.  Dalam pendekatan tingkah laku terdapat dua dua teori belajar yang terkenal yaitu Classical Conditioning dari Pavlov dan Operant Conditioning dari Skinner.

 

Berikut ini terdapat ciri-ciri yang membedakan terapi tingkah laku dengan pendekatan terapi lainnya:

a. Pemusatan perhatian

b. Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment

c. perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah

d. penafsiran objektif atas hasil-hasil terapi.

 

Tujuan umum  terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Karena, menurut pendekatan ini, bila segenap tingkah laku manusia dipelajari termasuk tingkah laku buruk, maka tingkah laku buruk juga dapat dihapus. Namun hal tersebut memunculkan kesalahpahaman bahwa terapi pendekatan ini hanya menghilangkan gejala-gejala perilaku maladaptive dan tujuan-tujuan klien ditentukan  ditentukan dan dipaksakan oleh terapis tingkah laku. Maka hal tersebut dibantahkan oleh terapis pendekatan tingkah laku. Jika para tokoh perintis terapi tingkah laku menitik beratkan pada kecakapan terapis untuk menetapkan tujuan-tujuan dan tingkah laku, maka terapis kontemporer memberikan penekanan pada keaktifan klien dalam menenentukan tujuan-tujuan terapi dan keterlibatan klien dalam proses terapi.

 

Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian  pemecahan-pemecahan bagi masalah-masalah manusia, para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptive dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang, diharapkan, mengarah kepada tingkah laku yang baru dan adaptive. Terapis juga berperan untuk memperkuat perilaku adaptive klien. Selain itu, terapis juga berfungsi penting sebagai model bagi klien. Sedangkan klien didorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru dengan maksud memperluas perbendaharaan tingkah laku adaptifnya.

 

Teknik-teknik Utama dalam Terapi Tingkah Laku

Dalam terapi tingkah laku, teknik-teknik spesifik yang beragam bisa digunakan secara sistematis, dan hasilnya dapat dievaluasi. Terapi-terapi berikut ini dapat digunakan untuk terapi individual maupun berkelompok.

1. Desensitiasi Sistematik

Desensitiasi sistematik digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat  secara negative, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau respons yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desensitiasi sistematik juga melibatkan teknik-teknik relaksasi. Klien dilatih untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau yang divisualisasi. Dapat diterapkan pada berbagai penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi, kecemasan-kecemasan neurotik, serta impotensi dan frigiditas seksual.

Prosedurnya yang pertama adalah, menganalisis tingkah laku atas stimulus-stimulus yang bisa membangkitkan kecemasan dalam suatu wilayah tertentu seperti penolakan, rasa iri, ketidaksetujuan, atau suatu fobia. Kedua, Klien diberi latihan relaksasi yang terdiri dari atas kontraksi, dan perlahan pengenduran otot-otot sampai tercapai keadaan santai penuh. Klien diminta untuk mempraktekan relaksasi diluar pertemuan terapi selama 30 menit setiap harinya. Ketiga, dengan keadaan santai dan mata tertutup klien diminta membayangkan situasi yang diceritakan klien, dimulai dari situasi netral hingga yang menimbulkan kecemasan. Ketika klien menunjukkan kecemasan akhiri proses tersebut dan mulai lagi sampai klien dapat santai dengan situasi kecemasan tersebut.

 

2. Terapi Implosif dan Flooding

Teknik flooding merupakan pemunculan stimulus terkondisi secara berulang tanpa diberi penguatan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi dan terrapis berusaha mempertahankan kecemasan. Sedangkan terapi implosif juga masih berhubungan dengan flooding, yang merupakan suatu metode yang menantang klien untuk menatap mimpi buruknya. Asumsinya bahwa jika seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang ditakutkan tidak muncul, maka kecemasan tereduksi atau terhapus.

 

3. Latihan Asertif

Latihan asertif bisa diterapkan pada situasi-situasi interpersonal di mana individu  mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif menggunakan prosedur-prosedur bermain peran. Perilaku asertif pertama-tama dilakukan saat bermain peran dan diusahakan untuk berlanjut ke kehidupan nyata. Terapis membimbing dengan memperlihatkan bagaimana dan bilamana klien bisa kembali pada tingkah laku semula, tidak tegas, serta memberikan pedoman untuk memperkuat perilaku asertif yang baru dipelajarinya.

 

4. Terapi Aversi

Terapi aversi digunakan untuk meredakan  gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasian tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Biasanya dilakukan dengan penarikan pemerkuat positif sebagai hukuman atau bahkan pemberian hukuman dengan kejutan listrik atau ramuan yang membuat mual. Teknik aversi merupakan teknik yang paling controversial yang dimiliki oleh behavioris meskipun digunakansecara luas. Teknik aversi biasanya digunakan  dalam penanganan berbagai tingkah laku  yang maladaptive, mencakup  kecanduan alcohol, ketergantungan obat-obatan, kecanduan rokok, obsesi-kompulsif, fetisisme, derjudi, dan penyimpangan seksual seperti homoseksual dan pedofilia.

 

5. Pengondisian Operant

Tingkah laku operant adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organism yang aktif. Ia adalah tingkah laku beroprasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat. Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengondisian operant. Metode-metode yang digunakan dalam teknik pengondisian operant adalah perkuatan positif, pembentukan respons, perkuatan intermiten, penghapusan, percontohan dan token economy.

 

Terapi pendekatan tingkah laku efektif untuk penyembuhan masalah kecemasan-kecemasan yang spesifik dan fobia. Tetapi kurang dapat dibuktikan dalam membantu untuk memberikan konseling yang menyangkut aktualisasi diri. Selain itu, terapi tingkah laku mengabaikan penyebab-penyebab historis dari tingkah laku aktual.

 

Sumber :

Correy, Gerald. 2003. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Edisi ke 4. Diterjemahkan oleh : E. Koeswara. Bandung : Refika Aditama.

 

Rational Emotive Therapy

Rational Emotive Therapi (RET)

 

Terapi Rasional Emotif atau Rational Emotive Therapy (RET) adalah pendekatan terapi yang dikemukakan oleh Albert Ellis.  RET adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. RET menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya. RET juga menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara simultan. Tujuan dari RET adalah membantu klien untuk membebaskan dirinya sendiri dari gejala-gejala yang dilaporkan dan yang tidak dilaporkan kepada terapis. 

Proses trapeutik terdiri atas penyembuhan irasionalitas dengan cara rasionalitas. Pada dasarnya individu adalah makhluk sosial dan karena sumber ketidakbahagiaannya adalah irasionalitas, maka individu bisa mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Sebagian besar dari proses terapi adalah belajar-mengajar. Sasaran terapi ini adalah untuk menjadikan klien menginternalisasi suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana klien menginternalisasi keyakinan-keyakinan dogmatis yang irasional dan takhayul yang berasal dari orang tua muaupun kebudayaan.

Terapis memiliki beberapa tugas dalam proses terapi. Pertama, terapis menunjukkan kepada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya, menunjukkan  bagaimana klien mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikapnya, dan menunjukkan secara kognitif bahwa klien sudah banyak memasukkan kata-kata ‘sebaiknya’, ‘mestinya’, atau ‘seharusnya’. Kedua, terapis membawa klien ke seberang tahap kesadaran dengan menunjukkan bahwa dia sekarang mempertahankan gangguan-gangguan emosional untuk tetap aktif dengan terus-menerus berpikir secara tidak logis dan dengan mengulang-ulang kalimat yang mengalahkan diri, dan yang mengekalkan pengaruh masa kanak-kanak. Ketiga, terapis membantu klien memahami hubungan antara gagasan-gagasan yang mengalahkan diri dan filsafat-filsafatnya yang tidak realistis yang menjurus kepada lingkaran setan proses penyalahan diri. Terakhir, terrapis menantang klien untuk mengembangkan filsafat-filsafat hidup yang rasional sehingga klien bisa menghindari kemungkinan menjadi korban keyakinan-keyakinan yang irasional. Selama terpi, terapis memainkan peran sebagai model yang tidak terganggu secara emosional dan yang hidup secara rasional.

Teknik RET yang esensial adalah mengajar secara aktif-direktif. Segera setelah terapi dimulai, terapis memainkan peran sebagai pengajar yang aktif untuk mereedukasi klien. RET adalah proses didaktik dan karena itu terapi ini menekankan metode-metode kognitif. Ellis (dalam Corey, 2003) menunjukkan bahwa penggunaan metode-metode terapi tingkah laku seperti pelaksanaan pekerjaan rumah, desensitiasi, pengondisian operan, hipnoterapi, dan latihan asertif cenderung digunakan secara aktif direktif di mana terapis lebih banyak berperan sebagai guru ketimbang sebagai pasangan yang berelasi secara intens.

Dengan tugas rumah yang diberikan klien dapat mempraktekan tingkah laku baru dan membantu mereka dalam proses pengondisian ulang. Namun, kekurangan dari terapi ini adalah kerusakan psikologis kemungkinan besar terjadi karena terapis memiliki kekuatan besar yang dihasilkan oleh sikap persuasive dan direktif.

Penerapan terapi ini dapat dilakukan secara individual maupun secara kelompok. Dalam penerapan secara individual sesi terapi dilakukan setiap minggu, dengan jumlah sesi antara lima sampai lima puluh sesi. Sedangkan secara kelompok biasanya dilakukan setiap akhir pekan.

 

Sumber :

Correy, Gerald. 2003. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Edisi ke 4. Diterjemahkan oleh : E. Koeswara. Bandung : Refika Aditama.

 

Terapi Analisis Transaksional

Terapi Analisis Transaksional

 

Analisis transaksional adalah suatu terapi kontraktual dan desisional. Klien membuat kontrak yang berisi tujuan-tujuan dan arah proses terapi. Terapi dengan pendekatan analisis transaksional ini dikembangkan oleh Eric Berne dengan berlandaskan dengan suatu teori kepribadian mengenai structural dan transaksional. Terapi ini berfokus pada putusan-putusan yang dibuat klien di awal untuk membuat putusan-putusan baru, dengan menekankan aspek-aspek kognitif-rasional-behavioral dan berorientasi pada peningkatan kesadaran. Sehingga klien dapat mengunah cara hidupnya dengan putusan-putusan baru.

 

Tujuan dasar terapi analisis transaksiaonal adalah membantu klien dalam membuat keputusan-keputusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya.  Inti terapi ini adalah menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh permainan manipulative dan oleh scenario-skenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai oleh kesadaran, spontanitas, dan keakraban. Analisis Transaksional adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam kelompok.

 

Dalam teori ini terdapat tiga pola tingkah laku dengan perwakilan ego yang terpisah, yaitu:

1. Ego Orang tua, adalah bagian kepribadian yang merupakan introyeksi dari orang tua atau subtitut orang tua. Dalam suatu situasi kita akan merasa dan bertindak pada orang lain dengan perasaan dan tindakan yang sama dengan orang tua kita terhadap kita.

2. Ego Orang Dewasa, adalah bagian objektif dari kepribadian, juga menjadi bagian dari kepribadian yang mengetahui apa yang sedang terjadi.

3. Ego Anak, adalah ego yang berisi perasaan-perasaan, dorongan-dorongan, dan tindakan-tindakan spontan.

Dengan mengenali dan memahami perwakilan-perwakilan ego-nya dan memahami ketiganya, individu dapat membebaskan diri dari keputusan-keputusan anak yang sudah usang dan dari pesan-pesan orang tua yang irasional yang menyulitkan kehidupan mereka.

 

Peran terapi sebagian besar adalah memberikan perhatian pada masalah-masalah didaktik dan emosional. Tugas terapis pada dasarnya adalah membantu agar klien memperoleh perangkat yang diperlukan bagi perubahan. Terapis menerangkan konsep-konsep seperti analisis structural, analisis transaksional, analisis scenario, dan analisis permainan. Terapis membantu klien menemukan kejadian di masa lampau yang merugikan sehingga klien membbuat keputusan dini tertentu, membuat rencana dan mengembangkan strategi untuk menghadapi orang lain.

 

Dalam terapi analisis transaksional, klien harus memiliki kesanggupan dan kesediaan untuk memahami dan menerima suatu kontrak terapi. Klien menjelaskan dan menyatakan tujuan-tujuan terapinya sendiri dalam formulir kontrak. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, klien dan terapis dapat merancang tugas-tugas yang akan dilaksanakan selama pertemuan terapi dan dalam kehidupan klien sehari-hari. Kontrak harus ditetapkan secara jelas, spesifik dan secara ringkas. Kontrak menentukan bagaimana klien melangkah ke arah tujuan-tujuannya, dan kapan kontraknya habis. Kontrak bisa dibuat secara bertahap, dapat dimulai dengan kontrak yang mudah atau jangka pendek. Kontrak bukanlah tujuan, tetapi merupakan sebuah alat untuk mrmbantu seseorang menerima tanggung jawab karena menjadi otonom.

 

Konsep-konsep dan teknik-teknik analisis transaksional cocok untuk terapi seccara berkelompok. Menurut Harris (1967)  terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh dengan terapi secara berkelompok, di antaranya:

1. Berbagi cara Ego Orang Tua mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi yang bisa diamati

2. Karakteristik-karakteristik Ego Anak pada masing-masing individu dalam kelompok bisa dialami

3. Orang-orang dapat dialami dalam kelompok yang alamiah, yang ditandai dengan kehadiran dari orang lain

4. Konfrontasi permainan-permainan yang timbal balik dapat muncul secara wajar

5. Klien bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatmen kelompok.

 

Teknik-teknik Terapi

a. Analisis Struktural

Analisis structural adalah alat yang bisa membantu klien agar menjadi sadar atas isi dan fungsi Ego Orang Tua, Ego Orang Dewasa dan Ego Anaknya. Klien belajar mengenali ketiga perwakilan ego-nya dan menemukan perwakilan ego yang menjadi landasan tingkah lakunya. Analisis structural membantu klien dalam mengubah pola-pola yang dirasa menghambat. Dua tipe masalah yang berkaitan dengan struktur kepribadian bisa diselidiki melalui analisis structural: pencemaran dan penyisihan. Pencemaran terjadi apabila isi perwakilan ego yang satu bercampur dengan isi perwakilan ego yang lainnya. Penyisihan terdapat ketika ego yang satu tersisih dan merintangi ego yang lainnya – yakni apabila garis-garis batas ego yang kaku tidak memungkinkan gerakan bebas.

 

b. Metode-metode Didaktik

Analisis Transaksional menekankan domain kognitif,  prosedur-prosedur belajar mengajar menjadi prosedur-prosedur dasar bagi Analisis Transaksional. Para anggota kelompok-kelompok Transaksional diharapkan mengenal analisis structural dengan mengetahui landasan-landasan perwakilan ego. Seringkali dianjurkan beberapa buku, mengikuti konferensi-konferensi dan pendidikan-pendidikan yang berkaitan dengan Analisis Transaksional.

 

c. Analisis Transaksional

Analisis transaksional pada dasarnya adalah suatu penjabaran atas apa yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang terhadap satu sama lain. Apapun yang terjadi di antara orang-orang melibatkan suatu transaksi di antara perwakilan-perwakilan ego mereka. Ada tiga tipe transaksi: komplementer (seseorang memperoleh respon yang diperkirakan diberikan perwakilan ego orang lain), menyilang (respon yang diterima tidak diharapkan diberikan pada suatu pesan), dan terselubung ( transaksi yang kompleks, lebih dari satu perwakilan ego terlibat serta adanya pesan terrselubung pada orang lain).

 

d. Kursi Kosong

Klien diminta untuk membayangkan bahwa seseorang sedang duduk di sebuah kursi dan sedang berdialog. Prosedur ini member kesempatan pada klien untuk menyatakan pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan sikap-sikapnya selama dia menjalankan peran-peran perwakilan-perwakilan ego-nya. Teknik kursi kosong dapat digunakan oleh orang-orang yang mengalami konflik-konflik internal yang hebat guna memperoleh fokus yang lebih tajam dan pegangan yang kongkret bagi upaya pemecahan.

 

e. Permainan Peran

Dalam terapi kelompok, seseorang anggota kelompok memainkan peran sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber masalah bagi anggota lainnya, dan ia berbicara kepada anggota tersebut. Bentuk permainan lainnya adalah permainan menonjolkan gaya-gaya yang khas dari perwakilan ego yang konstan, atau permainan tertentu lainnya agar memungkinkan klien memperoleh umpan balik tentang tingkah laku sekarang dalam kelompok.

 

f. Percontohan Keluarga

Klien diminta untuk membayangkan suatu adegan yang melibatkan banyak orang dalam kenangan masa lalu termasuk diri klien. Klien menjadi sutradara, produser, sekaligus aktor, menempatkan anggota kelompok dan dirinya pada situasi yang dibayangkan. Diskusi, tindakan dan evaluasi dilakukan untuk mempertajam kesadaran pada suatu situasi yang spesifik dan makna-makna pribadi yang masih berlaku.

 

g. Analisis Upacara, Hiburan, dan Permainan

Penyusunan waktu adalah bahan yang penting bagi diskusi dan pemeriksaan karena ia merefleksikan putusan-putusan tentang bagaimana menjalani transaksi dengan orang lain dan memperoleh belaian. Orang yang menyusun waktunya terutama dengan upacara-upacara dan hiburan-hiburan boleh jadi mengalami kekurangan belaian dan karenanya dia kekurangan keakraban dalam transaksinya dengan orang lain.

 

h. Analisis Permainan dan Ketegangan

Analisis permainan-permainan dan ketegangan-ketegangan adalah suatu aspek yang penting  bagi pemahaman sifat transaksi-transaksi dengan orang lain. Hasil dari kebanyakan permaian adalah perasaan tidak enak yang dalami oleh pemain. Penting bagi terapis untuk mengamati dan memahami mengapa permainan-permainan yang dimainkan, apa hasil permainan-permainan itu, belaian-belaian apa yang diterima, dan bagaimana permainan-permainan itu membuat jarak dan menghambat keakraban. Belajar untuk memahami ‘penipuan’ oleh seseorang dan bagaiman kaitan penipuan itu dengan permainan-permainan, putusan-putusan dan skenario-skenario kehidupan adalah suatu proses yang penting dalam terapi Analisis Transaksional.

 

i. Analisis Skenario

Analisis scenario adalah bagian dari proses terapi yang memungkinkan pola hidup yang diikuti oleh individu bisa dikenali. Analisis scenario membuka alternative-alternatif baru yang menjadikan orang bisa memilih sehingga dia tidak lagi merasa dipaksa memainkan permainan-permainan mengumpulkan perasaan-perasaan untuk membenarkan tindakan tertentu yang dilaksanakan menurut plot scenario. Analisis scenario bisa dilaksanakan dengan menggunakan suatu daftar scenario yang berisi item-item yang berkaitan dengan posisi-posisi hidup, penipuan-penipuan, permainan-permainan – yang semuanya merupakan komponen-komponen fungsional utama pada scenario kehidupan individu.

 

Dalam terapi dengan pendekatan Analisis Transaksional salah satu kekurangannya adalah pengabaian terhadap asppek-aspek emosional. Karena itulah pengintegrasian sejumlah konsep dan teknik terapi Gestalt dengan konsep-konsep dan teknik-teknik Analisis transaksional merupakan cara yang paling baik.

 

 

 

 

Sumber :

Correy, Gerald. 2003. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Edisi ke 4. Diterjemahkan oleh : E. Koeswara. Bandung : Refika Aditama.

 

Terapi Client Centered Therapy

Client Centered Therapy

 

Pendekatan terapi client centered therapy yang dikembangkan Roger didasarkan pada falsafah sifat naluri manusia yang menegaskan adanya aktualisasi diri. Client centered therapy merupakan salah satu terapi yang difokuskan pada pertanggungjawaban dan kapasitas klien untuk menemukan cara agar bisa menghadapi realitas, pada pribadi klien bukan pada problema yang dikemukakan oleh klien. Sasaran dari terapi ini bukan hanya sekedar menyelesaikan problema, tetapi membantu klien dalam proses pertumbuhannya, sehingga dia akan bisa lebih baik menangani problemanya di masa sekarang dan masa depan. Selain itu, yang paling penting adalah terapis dapat menciptakan suasana kondusif yang bisa menolong klien menjadi individu yang berfungsi secara penuh.

 

Saat klien datang untuk menjalani proses terapi, terapis tidak menerima keadaan klien dalam suatu diagnostic tertentu yang diberikan sebelumnya, tetapi menemuinya dengan dasar eksperiensial. Klien datang menemui terapis dalam keadaan di mana adanya ketidak sesuaian antara persepsi diri dengan pengalamannya yang riil. Klien merasa tidak nyaman dengan penyesuaian psikologisnya pada saat itu hingga ia menginginkan adanya perubahan. Rasa ketidak berdayaan yang mendasar, tidak memiliki kekuasaan, ketidakmampuan untuk membuat keputusan ataupun arah hidup, adalah alasan mengapa klien datang untuk menjalani proses terapi.

 

Seorang terapis yang melakukan terapi dengan pendekatan client centered therapy harus mampu menunjukkan kepedulian, ikhlas, rasa hormat, penerimaan, dan pengertian, sehingga klien mengendorkan  sikap defensifnya serta persepsinya yang kaku. Pada saat berhadapan dengan klien terapis hanya bertindak sebagai fasilitator bagi klien. Terapis client centered terapi dituntut untuk membuat iklim terapi yang bisa menolong klien untuk tumbuh, di mana klien bisa mengalami kebebasan yang diperlukan untuk menggali kawasan hidupnya yang saat ini tidak disadari atau sedang porak-poranda.

 

Dalam proses terapi clien centered therapy klien akan mampu untuk mengeksplorasi ruang lingkup dari perasaannya lebih luas. Klien dapat mengungkapkan segala perasaan yang pernah dirasakannya, dan makin banyak menemuakan aspek-aspek dalam diri mereka yang selama ini dibiarkan sembunyi. Pada saat klien merasa dirinya dipahami dan diterima maka sikap defensifnya akan berkurang dan menjadi lebih terbuka. Klien akan mulai mengurangi orientasinya pada pemenuhan harapan orang lain dan menjadi lebih jujur dengan dirinya sendiri.

Pengalaman klien selama terapi adalah proses membuang belenggu psikologis yang selama ini mengganggunya. Klien diharapkan mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dan klien lah yang menentukan irama dari konseling yang dijalani. Klien menentukan kawasan yang ingin diekplorasinya berdasarkan sasaran perubahan yang mereka inginkan. Klien yang sudah terbebas dari belenggu tersebut dapat mengeksplorasi sesuatu yang diingininya dan beraktualisasi diri.

 

Menurut Rogers terdapat enam kondisi yang diperlukan dan dianggap cukup untuk bisa menciptakan perubahan kepribadian, di antaranya:

1. Ada dua orang dalam kontak psikologis.

2. Orang pertama adalah klien yang datang karena mengalami hal yang tidak kongruen.

3. Orang kedua adalah terapis yang kongruen dan terinterasi dalam hubungan itu.

4. Terapis menaruh perhatian positif yaitu betul-betul peduli terhadap klien.

5. Terapis mengalami pemahaman secara empati terhadap ukuran internal dengan klien membentuk sikap atau keputusan dan usaha untuk mengkomunikasikannya dengan klien.

6. Yang dikomunikasikan kepada klien yang berupa pemahaman empati dan perhatian positif tanpa syarat itu diterima dalam tingkat yang minim.

 

Menurut Rogers hubungan klien dengan terapis berciri kesamaan derajat, oleh karena terapis tidak merahasiakan pengetahuannya ataupun berusaha untuk menjadikan proses terapi menjadi mistik. Klien melihat terapis mau mendengarkan dengan sikap terbuka mereka, sedikit demi sedikit klien belajar  untuk terbuka pada dirinya sendiri. Dengan sikap terapis yang seperti itu, klien dapat mengetahui bahwa terapis mau peduli dan menghargai mereka, sehingga mereka mulai mengetahui nilai dan harga dirinya sendiri. Untuk itu terapis harus memiliki karakteristik, sebgai berikut: Kongruen, perhatian positif tidak bersayarat, dan pemahan empati yang akurat.

Karena fokus terapi ini berfokus pada diri klien sendiri maka hambatan budaya bukan menjadi hambatan seperti dalam praktik terapi lainnya. Namun menurut Combs, sebagian besar dari para praktisi client centered therapy tidak memiliki teori yang bisa memenuhi tuntutan kriteria terapi.   

 

 

Sumber :

Correy, Gerald. 1995. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Edisi ke 4. Diterjemahkan oleh : Drs. Mulyarto. Semarang : IKIP Semarang Press.