Arsip Kategori: Tugas

Tugas Kuliah (Softskill)

ANALISIS SKRIPSI: Sistem Pakar Untuk Menentukan Profesi Pekerjaan Sesuai Dengan Kepribadian

Tugas Analisis Skripsi Mata Kuliah Sistem Informasi Psikologi (Soft Skill)

Judul Skripsi: “Sistem Pakar Untuk Menentukan Profesi Pekerjaan Sesuai Dengan Kepribadian”

Penulis: Saefudin

Jurusan Sistem Informasi

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

2010

Latar Belakang

Penulisan skiripsi ini oleh penulis (Saefudin) dilatarbelakangi dengan perkembangan teknologi komputer, yang diiringi pula oleh berkembangnya kecerdasan buatan. Salah satu dari  kecerdasan buatan adalah Sistem Pakar. Saat ini terdapat beberapa masalah seseorang tidak bisa menikmati pekerjaan tersebut, karena pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan kepribadian yang dimiliki, oleh sebab itulah sistem pakar ini dibuat untuk membantu seseorang menentukan pekerjaan apa yang sesuai dengan kepribadiannya, sehingga bisa bekerja dengan maksimal, karena menikmati dan menyukai profesi pekerjaan yang akan jalani. Berdasarkan uraian latar belakang yang dipaparkan penulis, maka penulis menentukan judul dalam skripsi ini adalah “SISTEM PAKAR UNTUK MENENTUKAN PROFESI PEKERJAAN SESUAI DENGAN KEPRIBADIAN” dengan menggunakan kepribadian seseorang sebagai objek untuk melakukan pembuatan aplikasi sistem pakar.

Pembahasan

Penulis memakai tipe kepribadian Sanguinis, Phlegmatis, Koleris, dan Melankolis sebagai tipe kepribadian yang akan digunakannya dalam membuat Sistem Pakar. Pengetahuan mengenai kepribadian tersebut tentunya perlu dikumpulkan dari pakar dalam bidang tersebut, yaitu Psikolog karena kepribadian merupakan cakupan dari kajian psikologi. Tipe-tipe kepribadian tersebut di-input dalam sistem pakar, berikut dengan ciri-ciri kepribadian dari tipe tersebut. Untuk mengguanakan sistem pakar tersebut, pengguna cukup mencentang ciri-ciri kepribadian yang paling sesuai dengan dirinya yang disajikan dalam jendela aplikasi sistem pakar. Setelah selesai,  pengguana akan diberi penjelasan mengenai tipe kepribadiannya dan profesi yang disarankan.

Gambar Dari Sistem Pakar

Pengguna mencentang ciri-ciri kepribadian yang sesuai dengan dirinya.

Ciri kepribadian sistem pakar

Pengguna memperoleh hasil analisis dari sistem pakar seperti gambar di bawah.

 Hasil Diagnosa sistem pakar

Ket: Gambar diambil dari skripsi ini

Kesimpulan

Penggunaan sistem pakar ini dapat membantu dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah menentukan jenis profesi yang sesuai dengan kepribadian. Sistem pakar dibuat berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari seorang pakar dari bidang psikologi. Pengetahuan tersebut dijadikan data yang di-input pada aplikasi sistem pakar. Dengan begitu pengguna yang menggunakan aplikasi sistem pakar ini akan mendapatkan informasi seperti dari pakarnya langsung.

 

Daftar Pustaka:

Sistem Pakar Untuk Menentukan Profesi Pekerjaan Sesuai Dengan Kepribadian

Iklan

Sistem Informasi Berbasis Komputer dan Artificial Intelligence

Sistem Informasi Psikologi

Sistem Informasi Berbasis Komputer dan Artificial Intellegence

Pendahuluan
Saat ini, kecepatan dan keakuratan mengolah data menjadi informasi yang berarti menjadi hal yang sangat penting. Selain cepat dan akurat, kualitas informasi yang dibutuhkan juga tak kalah penting. Untuk mendukung hal tersebut digunakan sistem informasi dengan basis komputer dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang dapat membantu kita dalam mendapatkan informasi yang kita inginkan dari data yang mendukung, walaupun tanpa bantuan secara langsung dari ahli sehingga lebih efisien. Saat ini terdapat Sistem Informasi Berbasis Komputer atau Computer Based Information System (CBIS) dan Artificial Intelligence yang dapat membantu kita dalam mengolah data menjadi informasi yang kita butuhkan. Berikut ini penjelasannya:

1. Sistem Informasi Berbasis Komputer

Definisi Sistem Informasi Komputer
Sistem Informasi Berbasis Komputer atau Computer Based Information System (CBIS) merupakan suatu sistem pengolah data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dipergunakan untuk suatu alat bantu pengambilan keputusan. Dalam Sistem Informasi Berbasis Komputer, komputer memainkan peranan yang penting dalan suatu sistem pembangkit informasi. Dengan integrasi yang dimiliki antar subsistemnya, sistem informasi akan mampu menyediakan informasi yang berkualitas, tepat, cepat dan akurat sesuai dengan kebutuhan. Komponen-komponen yang ada dalam Sistem Informasi Berbasis Komputer adalah perangkat keras, perangkat lunak, database, telekomunikasi, dan manusia (user).
Pemanfaatan Sistem Informasi Berbasis Komputer pada perusahaan akan membantu dalam mengenalkan produk, sehingga mempermudah pemasaran. Terdapat beberapa Sistem Informasi Berbasis Komputer yang digunakan, dua di antaranya akan dijelaskan dalam tulisan ini yaitu, Sistem Pakar dan Sistem Pengambilan Keputusan.

gambar-cbis

link gambar: klik

a. Sistem Pakar

Definisi Sistem Pakar
Sistem pakar atau Expert System (ES) adalah sebuah sistem informasi yang memiliki intelegensia buatan (Artificial Intelegent) yang menyerupai intelegensia manusia. Sistem pakar bertujuan untuk menyediakan dukungan pemecahan masalah tingkat tinggi untuk pemakai dengan cara yang efektif. Sistem pakar memiliki kemampuan untuk menjelaskan alur penalarannya dalam mencapai suatu pemecahan tertentu. Sangat sering terjadi penjelasan cara pemecahan masalah ternyata lebih berharga dari pemecahannya itu sendiri. Dengan sistem pakar ini, orang awam pun dapat menyelesaikan masalah yang cukup rumit yang sebenarnya hanya dapat diselesaikan dengan bantuan para ahli. Bagi para ahli, sistem pakar ini juga akan membantu aktivitasnya sebagai asisten yang sangat berpengalaman.

Contoh Aplikasi Sistem Pakar
1. MYCIN : Membantu petugas medis dalam mendiagnosa penyakit yang disebabkan bakteri.
2. DENDRAL : Mengidentifikasi struktur molekular campuran yang tak dikenal.
3. XCON & XSEL : Membantu konfigurasi sistem komputer besar.
4. SOPHIE : membantu dalam analisis sirkuit elektronik.
5. PROSPECTOR : Digunakan di dalam geologi untuk membantu mencari dan menemukan deposit.
6. FOLIO : Menbantu memberikan keputusan bagi seorang manajer dalam hal stok broker dan investasi.
7. DELTA : Membantu dalam pemeliharaan lokomotif listrik disel.

sistem pakar1

link gambar: klik

b. Sistem Pengambilan Keputusan

Definisi Sistem Pengambilan Keputusan
Sistem Pengambilan Keputusan atau Decision Support System (DSS) adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer yang dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Sistem pengambilan keputusan merupakan sebuah sistem yang memberikan pertimbangan kepada bagian manager sampai ke direktur atau pemilik saham dalam perusahaan, untuk memutuskan sebuah kebijakan tertentu dalam perusahaan. Menurut Bonczek, R.H, C.W. Holsapple dan A.B. Whinston, DSS sebagai sistem berbasis komputer yang terdiri dari tiga komponen yang saling berinteraksi : sistem bahasa (mekanisme untuk memberikan komunikasi antara pengguna dan komponen DSS lain), sistem pengetahuan (repository pengetahuan domain masalah yang ada pada DSS entah sebagai data atau sebagai prosedur), dan sistem pemrosesan masalah (hubungan antara dua komponen lainnya, terdiri dari satu atau lebih kapabilitas manipulasi masalah umum yang diperlukan untuk pengambilan keputusan).

Contoh Aplikasi Sistem Pengambilan Keputusan (DSS)
Institutional DSS: Membantu dalam perencanaan strategis perusahaan.
Ad hoc DSS: untuk masalah & situasi tertentu
Industrial DSS: Airline DSS, Real Estate DSS
GIS (Geographic Information Systems) : merupakan DSS yang mendukung keputusan menyangkup distribusi geografis dari sumber daya.

struktur_dss_main-vercellis-2009-36

link gambar: klik

2. Artificial Intelligence

Definisi Artificial Intelligence
Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, secara luas diartikan sebagai cabang ilmu komputer yang berhubungan dengan pengembangan komputer (perangkat keras) dan program-program komputer (perangkat lunak) yang mampu meniru fungsi kognisi manusia. (Solso, 2008)

Contoh Aplikasi Artificial Intelligence
ELIZA : Program yang dapat mengambil peran seperti seorang psikiater, namun untuk kasus-kasus tertentu tidak dapat digunakan dan tetap harus dengan psikiater.
PARRY : Program simulasi komputer yang bertindak sebagai pasien yanga akan diajak bicara oleh psikiater (kebalikan dari program ELIZA)
NETtalk : Program yang dapat membaca tulisan dan mengucapkan kata.
(Solso, 2008)

PIC20021211110167299

link gambar: klik

Kesimpulan

Baik Sistem Informasi Berbasis Komputer maupun Artificial Intelligence merupakan hasil dari kemajuan teknologi komputer yang diciptakan guna membantu pekerjaan manusia. Keduanya dapat digunakan dalam pengolahan data untuk diproses melalui program-program yang dibuat, sehingga mampu menyajikan informasi yang relevan bagi pengguna secara efektif. Peran ahli dapat digantikan sehingga dapat membantu penyelesaian masalah bagi orang awam sekalipun. Meskipun memudahkan dalam menyelesaikan masalah tanpa bantuan ahli, namun dalam beberapa kasus, penyajian informasi akan bermanfaat setelah pengkajian lebih dalam dari beberapa ahli. Pada Sistem Pakar alur penyelesaian masalah terdapat penjelasan mengenai alur penalaran hingga menghasilkan informasi, tetapi tidak pada Sistem Pengambilan Keputusan. Sistem Pakar sendiri merupakan salah satu cabang dari Artificial Intelligence.

Daftar Pustaka

Anonim. (2013). Kecerdasan Buatan. http://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_buatan. Diakses pada tanggal 9 November 2013 pukul 23.30.
Solso, R. L., Maclin, O. H., & Maclin M. K. (2008). Psikologi Kognitif. Terjemahan oleh Mikael Rahardanto & Kristianto Batuadji M. Psi., M. A. Jakarta: Erlangga.
Febriansatria. (2012). Sistem Pengambilan Keputusan. febriansatria.wordpress.com/2012/11/07/sistem-pengambilan-keputusan/‎. Diakses pada tanggal 8 November 2013 pukul 11.30.
Brigida. (2012). Sistem Informasi Berbasis Komputer (CBIS). http://informatika.web.id/sistem-informasi-berbasis-komputer-cbis.htm. Diakses pada tanggal 8 November 2013 pukul 11. 25.
Acakacik. (2013). Sistem Pengambilan Keputusan. http://acakacik.blogspot.com/2013/02/sistem-pengambilan-keputusan.html. Diakses pada tanggal 8 November 2013 pukul 11.30.
Rahayu, M. P. (2012). Sistem Informasi dan Contoh Aplikasinya. http://getcharintegerina.wordpress.com/2012/04/19/jenis-jenis-sistem-informasi-dan-contoh-aplikasinya/ . Diakses pada tanggal 9 November 2013 pukul 14.30.
Irpan. (2012). Konsep Dasar Artificial Intelligence. http://irpantips4u.blogspot.com/2012/12/konsep-dasar-artificial-intelligence-ai.html. Diakses pada tanggal 9 November 2013 pukul 23.30.
Marizalita, H. (2013). Sistem Informasi Berbasis Komputer. http://henimarizalita.blogspot.com/2013/11/sistem-informasi-berbasis-komputerdan.html. Diakses pada tanggal 9 November 2013 pukul 14.30.
Uwam. (2012). Pengertian Sistem Informasi Berbasis Komputer dengan Contoh Sistem Pakar. http://uwam.wordpress.com/2012/06/05/pengertian-sistem-informasi-berbasis-komputer-dengan-contoh-sistem-pakar/. Diakses pada tanggal 8 November 2013 pukul 11.30.

ARSITEKTUR KOMPUTER DAN STRUKTUR KOGNISI MANUSIA

Tugas Pertama Mata Kuliah Sistem Informasi Psikologi

1. Arsitektur Komputer

Arsitektur Komputer merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang perencanaan dan struktur kerja komputer. Mengkaji dan memberi deskripsi mengenai cara setiap perangkat keras komputer bekerja menurut fungsinya, sehingga dapat digunakan untuk membantu pengolahan data secara efisien dan efektif. Data mentah yang ada di-input ke dalam komputer untuk diolah oleh CPU dengan program yang ada, sehingga di peroleh informasi yang berguna dari data tersebut.

Silakan klik untuk keterangan lebih lanjut:

Arsitektur Komputer 1

Arsitektur Komputer 2

Gambar untuk Arsitektur Komputer:

gambar arsitektur komputer

Link Gambar: klik di sini

2. Struktur Kognisi Manusia

Struktur kognisi adalah suatu kerangka kerja yang digunakan individu (manusia) dalam memproses stimulus (informasi) yang diperoleh dari pengalaman empirik, kemudian diinterpretasikan dan diorganisasikan. Segala stimulus yang diterima panca indera yang diterima, diproses di otak untuk selanjutnya menghasilkan sebuah respons.

Silakan klik untuk keterangan lebih lanjut:

Kognisi

gambar struktur kognisi manusia

Link Gambar : Klik di sini

Kesimpulan:

Struktur kognisi manusia memiliki kesamaan dengan arsitektur komputer. Keduanya sama-sama memiliki alur dalam memproses data masukan (stimulus) untuk akhirnya di simpan (di Unit Penyimpanan Sekunder pada komputer atau Memori Jangka Panjang pada kognisi manusia) atau dikeluarkan menjadi informasi atau respon. Namun Komputer tidak dapat dijalankan secara manual, tetapi harus dijalankan oleh pengguna agar dapat menjalankan fungsinya. Sedangkan stuktur kognisi berjalan secara otomatis.

Sumber:

http://loverboy.blogdetik.com/2012/11/14/analisa-perbedaan-struktur-kognitif-manusia-dan-arsitektur-komputer/

http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_komputer

http://dunianyaamahasiswa.blogspot.com/2013/01/arsitektur-komputer.html

http://nurmalitaseptiani.wordpress.com/2009/12/13/resume-dasar-pemrosesan-komputer/

http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/teori-perkembangan-kognitif-jean-piaget-dan-implementasinya-dalam-pendidikan-346946.html

http://mkkskotapekalongan.wordpress.com/2011/12/19/teori-belajar-kognitif/

LOGOTHERAPY

Logotherapy

 

Sesuatu hal yang tidak dapat dihancurkan oleh apapun dan dimiliki oleh manusia adalah kebebasan untuk memilih makna.. Dengan landasan fenomenologi, Frankl menjelaskan bahwa perilaku manusia tidak hanya diakibatkan oleh proses psikis saja. Menurutnya, pemberian makna berada di luar semua proses psikologis. Dia mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut dengan Logoterapi (berasal dari kata Yunani “Logos” yang berarti “makna”).

 

Logoterapi memandang manusia sebagai totalitas yang terdiri dari tiga dimensi; fisik, psikis, spiritual. Untuk memahami diri dan kesehatan, kita harus memperhitungkan ketiganya. Selama ini dimensi spiritual diserahkan pada agama, dan pada gilirannya agama tidak diajak bicara untuk urusan fisik dan psikilogis. Kedokteran, termasuk psikologi telah mengabaikan dimensi spiritual sebagai sumber kesehatan dan kebahagiaan (Jalaluddin Rahmat, 2004). Inti ajaran Frankl adalah pandangan bahwa menjalani hidup dimaksudkan untuk suatu tujuan tertentu. Motivasi utama dari manusia adalah untuk menemukan tujuan itu, itulah makna hidup.

 

Frankl menyebut dimensi spiritual sebagai “noos” yang mengandung semua sifat khas manusia, seperti keinginan kita untuk memberi makna, orientasi-orientasi tujuan kita, kreativitas kita, imajinasi kita, intuisi kita, keimanan kita, visi kita akan menjadi apa, kemampuan kita untuk mencintai di luar kecintaan yang fisik psikologis, kemampuan mendengarkan hati nurani kita di luar kendali superego, secara humor kita. Di dalamnya juga terkandung pembebasa diri kita atau kemampuan untuk melangkah ke luar dan memandang diri kita, dan transendensi diri atau kemampuan untuk menggapai orang yang kita cintai atau mengejar tujuan yang kita yakini. Dalam dunia spiritual, kita tidak dipandu, kita adalah pemandu, pengambil keputusan. Semuanya itu terdapat di alam tak sadar kita. Tugas seorang logoterapis adalah menyadarkan kita akan perbendaharaan kesehatan spiritual ini.

 

Menurut Frankl (dalam Trimardhany, 2003) logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainya erat hubunganya dan saling menunjang yaitu:

1. Kebebasan berkehendak (Freedom of Will)

Dalam pandangan Logoterapi manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggungjawab. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan dari (freedom from) kondisi-kondisi biologis, psikologis dan sosiokultural tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-kondisi tersebut. Kelebihan manusia yang lain adalah kemampuan untuk mengambil jarak (to detach) terhadap kondisi di luar dirinya, bahkan manusia juga mempunyai kemampuan-kemampuan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri (self detachment). Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian membuat manusia disebut sebagai “ the self deteming being” yang berarti manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.

 

2. Kehendak Hidup Bermakna (The Will to Meaning)

Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang utama adalah mencari makna. Ini berbeda denga psikoanalisa yang memandang manusia adalah pencari kesenangan atau juga pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi (Koeswara, 1992) bahwa kesenagan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna itu. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl bersifat menarik (to pull) dan menawari (to offer) bukannya mendorong (to push). Karena sifatnya menarik itu maka individu termotivasi untuk memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan berbagai kegiatan yang sarat dengan makna.

 

3. Makna Hidup (The Meaning Of Life)

Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang (Bastaman, 1996). Untuk tujuan praktis makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara manusia satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu. Setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya ( Frankl, 2004).

 

Dalam prakteknya logoterapi dapat mengatasi kasus fobia dengan menggunakan teknik “paradoxical intention”, yaitu mengusahakan agar orang mengubah sikap dari yang semula memanfaatkan kemampuan mengambil jarak (self detachment) terhadap keluhan sendiri, kemudian memandangnya secara humoritas. Logoterapi juga dapat diterapkan pada kasus-kasus frustasi eksistensial, kepapaan hidup, kehampaan hidup, tujuannya adalah membantu kita untuk menyadari adanya daya spiritual Yang terdapat pada setiap orang, agar terungkap nyata (actual) yang semula biasanya ditekan (repressed), terhambat (frustasi) dan diingkari. Energi spiritual tersebut perlu dibangkitkan agar tetap teguh menghadapi setiap kemalangan dan derita.

 

Logoterapi membantu pribadi untuk menemukan makna dan tujuan hidupnya dan menyadarkan akan tanggung jawabnya, baik terhadap diri sendiri, hati nurani, keluarga, masyarakat, maupun kepada Tuhan. Tugas seorang logoterapis dalam hal ini adalah sekedar membuka cakrawala pandangan klien dan menjajaki nilai-niliai yang memungkinkan dapat diketemukan makna hidup, yaitu nilai-nilai kritis, kreatif, dan sikap bertuhan. Dengan demikian logoterapi mencoba untuk menjawab dan menyelesaikan berbagai problem, krisis, dan keluhan manusia masa kini, yang initinya adalah seputar hasrat untuk hidup secara bermakna.

 

Dalam prakteknya, logoterapis membantu klien agar lebih sehat secara emosional, dan salah satu cara untuk mencapainya adalah memperkenalkan filsafat hidup yang lebih sehat, yaitu mengajak untuk menemukan makna hidupnya. Menemukan makna hidup merupakan sesuatu yang kompleks. Pada banyak kasus, logoterapis hanya dapat mengajak klien untuk mulai menemukannya. Logoterapis harus menghindar untuk memaksakan suatu makna tertentu pada klien, melainkan mempertajam kepada klien akan makna hidupnya.

 

 

Sumber:

http://www.psychologymania.com/2012/08/landasan-logoterapi.html

http://www.psychologymania.com/2011/09/logoterapi-sebuah-pendekatan.html

 

Behavior Therapy

Behavior Therapy (Terapi Tingkah Laku)

 

Behavior therapy atau terapi tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Pendekatan tingkah laku merupakan pendekatan yang dicetuskan oleh John Watson. Terapi tingkah laku lebih tepat dipandang sebagai terapi tingkah laku yang mencakup berbagai prinsip dan metode yang belum dipadukan ke dalam suatu sistem yang dipersatukan. Modifikasi tingkah laku telah memberikan pengaruh yang besar kepada lapangan pendidikan, terutama pada area pendidikan khusus yang menangani anak-anak yang memiliki masalah-masalah tingkah laku. Salah satu aspek yang paling penting dari gerakan modifikasi tingkah laku adalah penekanannya pada tingkah laku yang bisa didefinisikan secara operasional, diamati, dan diukur.

 

Dalil dasar pendekatan behaviorisme (tingkah laku)  adalah bawa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan menyingkapkan hukum-hukum yang mengendalikan tingkah laku. Behaviorisme ditandai oleh sikap membatasi metode-metode dan prosedur-prosedur pada data yang dapat diamati. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan  oleh lingkungan sosial budayanya karena pada dasarnya tingkah laku itu dipelajari.  Dalam pendekatan tingkah laku terdapat dua dua teori belajar yang terkenal yaitu Classical Conditioning dari Pavlov dan Operant Conditioning dari Skinner.

 

Berikut ini terdapat ciri-ciri yang membedakan terapi tingkah laku dengan pendekatan terapi lainnya:

a. Pemusatan perhatian

b. Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment

c. perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah

d. penafsiran objektif atas hasil-hasil terapi.

 

Tujuan umum  terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Karena, menurut pendekatan ini, bila segenap tingkah laku manusia dipelajari termasuk tingkah laku buruk, maka tingkah laku buruk juga dapat dihapus. Namun hal tersebut memunculkan kesalahpahaman bahwa terapi pendekatan ini hanya menghilangkan gejala-gejala perilaku maladaptive dan tujuan-tujuan klien ditentukan  ditentukan dan dipaksakan oleh terapis tingkah laku. Maka hal tersebut dibantahkan oleh terapis pendekatan tingkah laku. Jika para tokoh perintis terapi tingkah laku menitik beratkan pada kecakapan terapis untuk menetapkan tujuan-tujuan dan tingkah laku, maka terapis kontemporer memberikan penekanan pada keaktifan klien dalam menenentukan tujuan-tujuan terapi dan keterlibatan klien dalam proses terapi.

 

Terapis tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian  pemecahan-pemecahan bagi masalah-masalah manusia, para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptive dan dalam menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang, diharapkan, mengarah kepada tingkah laku yang baru dan adaptive. Terapis juga berperan untuk memperkuat perilaku adaptive klien. Selain itu, terapis juga berfungsi penting sebagai model bagi klien. Sedangkan klien didorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru dengan maksud memperluas perbendaharaan tingkah laku adaptifnya.

 

Teknik-teknik Utama dalam Terapi Tingkah Laku

Dalam terapi tingkah laku, teknik-teknik spesifik yang beragam bisa digunakan secara sistematis, dan hasilnya dapat dievaluasi. Terapi-terapi berikut ini dapat digunakan untuk terapi individual maupun berkelompok.

1. Desensitiasi Sistematik

Desensitiasi sistematik digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat  secara negative, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau respons yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desensitiasi sistematik juga melibatkan teknik-teknik relaksasi. Klien dilatih untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau yang divisualisasi. Dapat diterapkan pada berbagai penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi, kecemasan-kecemasan neurotik, serta impotensi dan frigiditas seksual.

Prosedurnya yang pertama adalah, menganalisis tingkah laku atas stimulus-stimulus yang bisa membangkitkan kecemasan dalam suatu wilayah tertentu seperti penolakan, rasa iri, ketidaksetujuan, atau suatu fobia. Kedua, Klien diberi latihan relaksasi yang terdiri dari atas kontraksi, dan perlahan pengenduran otot-otot sampai tercapai keadaan santai penuh. Klien diminta untuk mempraktekan relaksasi diluar pertemuan terapi selama 30 menit setiap harinya. Ketiga, dengan keadaan santai dan mata tertutup klien diminta membayangkan situasi yang diceritakan klien, dimulai dari situasi netral hingga yang menimbulkan kecemasan. Ketika klien menunjukkan kecemasan akhiri proses tersebut dan mulai lagi sampai klien dapat santai dengan situasi kecemasan tersebut.

 

2. Terapi Implosif dan Flooding

Teknik flooding merupakan pemunculan stimulus terkondisi secara berulang tanpa diberi penguatan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi dan terrapis berusaha mempertahankan kecemasan. Sedangkan terapi implosif juga masih berhubungan dengan flooding, yang merupakan suatu metode yang menantang klien untuk menatap mimpi buruknya. Asumsinya bahwa jika seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang ditakutkan tidak muncul, maka kecemasan tereduksi atau terhapus.

 

3. Latihan Asertif

Latihan asertif bisa diterapkan pada situasi-situasi interpersonal di mana individu  mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif menggunakan prosedur-prosedur bermain peran. Perilaku asertif pertama-tama dilakukan saat bermain peran dan diusahakan untuk berlanjut ke kehidupan nyata. Terapis membimbing dengan memperlihatkan bagaimana dan bilamana klien bisa kembali pada tingkah laku semula, tidak tegas, serta memberikan pedoman untuk memperkuat perilaku asertif yang baru dipelajarinya.

 

4. Terapi Aversi

Terapi aversi digunakan untuk meredakan  gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasian tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Biasanya dilakukan dengan penarikan pemerkuat positif sebagai hukuman atau bahkan pemberian hukuman dengan kejutan listrik atau ramuan yang membuat mual. Teknik aversi merupakan teknik yang paling controversial yang dimiliki oleh behavioris meskipun digunakansecara luas. Teknik aversi biasanya digunakan  dalam penanganan berbagai tingkah laku  yang maladaptive, mencakup  kecanduan alcohol, ketergantungan obat-obatan, kecanduan rokok, obsesi-kompulsif, fetisisme, derjudi, dan penyimpangan seksual seperti homoseksual dan pedofilia.

 

5. Pengondisian Operant

Tingkah laku operant adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organism yang aktif. Ia adalah tingkah laku beroprasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat. Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengondisian operant. Metode-metode yang digunakan dalam teknik pengondisian operant adalah perkuatan positif, pembentukan respons, perkuatan intermiten, penghapusan, percontohan dan token economy.

 

Terapi pendekatan tingkah laku efektif untuk penyembuhan masalah kecemasan-kecemasan yang spesifik dan fobia. Tetapi kurang dapat dibuktikan dalam membantu untuk memberikan konseling yang menyangkut aktualisasi diri. Selain itu, terapi tingkah laku mengabaikan penyebab-penyebab historis dari tingkah laku aktual.

 

Sumber :

Correy, Gerald. 2003. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Edisi ke 4. Diterjemahkan oleh : E. Koeswara. Bandung : Refika Aditama.

 

Rational Emotive Therapy

Rational Emotive Therapi (RET)

 

Terapi Rasional Emotif atau Rational Emotive Therapy (RET) adalah pendekatan terapi yang dikemukakan oleh Albert Ellis.  RET adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. RET menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya. RET juga menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara simultan. Tujuan dari RET adalah membantu klien untuk membebaskan dirinya sendiri dari gejala-gejala yang dilaporkan dan yang tidak dilaporkan kepada terapis. 

Proses trapeutik terdiri atas penyembuhan irasionalitas dengan cara rasionalitas. Pada dasarnya individu adalah makhluk sosial dan karena sumber ketidakbahagiaannya adalah irasionalitas, maka individu bisa mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Sebagian besar dari proses terapi adalah belajar-mengajar. Sasaran terapi ini adalah untuk menjadikan klien menginternalisasi suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana klien menginternalisasi keyakinan-keyakinan dogmatis yang irasional dan takhayul yang berasal dari orang tua muaupun kebudayaan.

Terapis memiliki beberapa tugas dalam proses terapi. Pertama, terapis menunjukkan kepada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya, menunjukkan  bagaimana klien mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikapnya, dan menunjukkan secara kognitif bahwa klien sudah banyak memasukkan kata-kata ‘sebaiknya’, ‘mestinya’, atau ‘seharusnya’. Kedua, terapis membawa klien ke seberang tahap kesadaran dengan menunjukkan bahwa dia sekarang mempertahankan gangguan-gangguan emosional untuk tetap aktif dengan terus-menerus berpikir secara tidak logis dan dengan mengulang-ulang kalimat yang mengalahkan diri, dan yang mengekalkan pengaruh masa kanak-kanak. Ketiga, terapis membantu klien memahami hubungan antara gagasan-gagasan yang mengalahkan diri dan filsafat-filsafatnya yang tidak realistis yang menjurus kepada lingkaran setan proses penyalahan diri. Terakhir, terrapis menantang klien untuk mengembangkan filsafat-filsafat hidup yang rasional sehingga klien bisa menghindari kemungkinan menjadi korban keyakinan-keyakinan yang irasional. Selama terpi, terapis memainkan peran sebagai model yang tidak terganggu secara emosional dan yang hidup secara rasional.

Teknik RET yang esensial adalah mengajar secara aktif-direktif. Segera setelah terapi dimulai, terapis memainkan peran sebagai pengajar yang aktif untuk mereedukasi klien. RET adalah proses didaktik dan karena itu terapi ini menekankan metode-metode kognitif. Ellis (dalam Corey, 2003) menunjukkan bahwa penggunaan metode-metode terapi tingkah laku seperti pelaksanaan pekerjaan rumah, desensitiasi, pengondisian operan, hipnoterapi, dan latihan asertif cenderung digunakan secara aktif direktif di mana terapis lebih banyak berperan sebagai guru ketimbang sebagai pasangan yang berelasi secara intens.

Dengan tugas rumah yang diberikan klien dapat mempraktekan tingkah laku baru dan membantu mereka dalam proses pengondisian ulang. Namun, kekurangan dari terapi ini adalah kerusakan psikologis kemungkinan besar terjadi karena terapis memiliki kekuatan besar yang dihasilkan oleh sikap persuasive dan direktif.

Penerapan terapi ini dapat dilakukan secara individual maupun secara kelompok. Dalam penerapan secara individual sesi terapi dilakukan setiap minggu, dengan jumlah sesi antara lima sampai lima puluh sesi. Sedangkan secara kelompok biasanya dilakukan setiap akhir pekan.

 

Sumber :

Correy, Gerald. 2003. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Edisi ke 4. Diterjemahkan oleh : E. Koeswara. Bandung : Refika Aditama.

 

Terapi Analisis Transaksional

Terapi Analisis Transaksional

 

Analisis transaksional adalah suatu terapi kontraktual dan desisional. Klien membuat kontrak yang berisi tujuan-tujuan dan arah proses terapi. Terapi dengan pendekatan analisis transaksional ini dikembangkan oleh Eric Berne dengan berlandaskan dengan suatu teori kepribadian mengenai structural dan transaksional. Terapi ini berfokus pada putusan-putusan yang dibuat klien di awal untuk membuat putusan-putusan baru, dengan menekankan aspek-aspek kognitif-rasional-behavioral dan berorientasi pada peningkatan kesadaran. Sehingga klien dapat mengunah cara hidupnya dengan putusan-putusan baru.

 

Tujuan dasar terapi analisis transaksiaonal adalah membantu klien dalam membuat keputusan-keputusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya.  Inti terapi ini adalah menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh permainan manipulative dan oleh scenario-skenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai oleh kesadaran, spontanitas, dan keakraban. Analisis Transaksional adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam kelompok.

 

Dalam teori ini terdapat tiga pola tingkah laku dengan perwakilan ego yang terpisah, yaitu:

1. Ego Orang tua, adalah bagian kepribadian yang merupakan introyeksi dari orang tua atau subtitut orang tua. Dalam suatu situasi kita akan merasa dan bertindak pada orang lain dengan perasaan dan tindakan yang sama dengan orang tua kita terhadap kita.

2. Ego Orang Dewasa, adalah bagian objektif dari kepribadian, juga menjadi bagian dari kepribadian yang mengetahui apa yang sedang terjadi.

3. Ego Anak, adalah ego yang berisi perasaan-perasaan, dorongan-dorongan, dan tindakan-tindakan spontan.

Dengan mengenali dan memahami perwakilan-perwakilan ego-nya dan memahami ketiganya, individu dapat membebaskan diri dari keputusan-keputusan anak yang sudah usang dan dari pesan-pesan orang tua yang irasional yang menyulitkan kehidupan mereka.

 

Peran terapi sebagian besar adalah memberikan perhatian pada masalah-masalah didaktik dan emosional. Tugas terapis pada dasarnya adalah membantu agar klien memperoleh perangkat yang diperlukan bagi perubahan. Terapis menerangkan konsep-konsep seperti analisis structural, analisis transaksional, analisis scenario, dan analisis permainan. Terapis membantu klien menemukan kejadian di masa lampau yang merugikan sehingga klien membbuat keputusan dini tertentu, membuat rencana dan mengembangkan strategi untuk menghadapi orang lain.

 

Dalam terapi analisis transaksional, klien harus memiliki kesanggupan dan kesediaan untuk memahami dan menerima suatu kontrak terapi. Klien menjelaskan dan menyatakan tujuan-tujuan terapinya sendiri dalam formulir kontrak. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, klien dan terapis dapat merancang tugas-tugas yang akan dilaksanakan selama pertemuan terapi dan dalam kehidupan klien sehari-hari. Kontrak harus ditetapkan secara jelas, spesifik dan secara ringkas. Kontrak menentukan bagaimana klien melangkah ke arah tujuan-tujuannya, dan kapan kontraknya habis. Kontrak bisa dibuat secara bertahap, dapat dimulai dengan kontrak yang mudah atau jangka pendek. Kontrak bukanlah tujuan, tetapi merupakan sebuah alat untuk mrmbantu seseorang menerima tanggung jawab karena menjadi otonom.

 

Konsep-konsep dan teknik-teknik analisis transaksional cocok untuk terapi seccara berkelompok. Menurut Harris (1967)  terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh dengan terapi secara berkelompok, di antaranya:

1. Berbagi cara Ego Orang Tua mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi yang bisa diamati

2. Karakteristik-karakteristik Ego Anak pada masing-masing individu dalam kelompok bisa dialami

3. Orang-orang dapat dialami dalam kelompok yang alamiah, yang ditandai dengan kehadiran dari orang lain

4. Konfrontasi permainan-permainan yang timbal balik dapat muncul secara wajar

5. Klien bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatmen kelompok.

 

Teknik-teknik Terapi

a. Analisis Struktural

Analisis structural adalah alat yang bisa membantu klien agar menjadi sadar atas isi dan fungsi Ego Orang Tua, Ego Orang Dewasa dan Ego Anaknya. Klien belajar mengenali ketiga perwakilan ego-nya dan menemukan perwakilan ego yang menjadi landasan tingkah lakunya. Analisis structural membantu klien dalam mengubah pola-pola yang dirasa menghambat. Dua tipe masalah yang berkaitan dengan struktur kepribadian bisa diselidiki melalui analisis structural: pencemaran dan penyisihan. Pencemaran terjadi apabila isi perwakilan ego yang satu bercampur dengan isi perwakilan ego yang lainnya. Penyisihan terdapat ketika ego yang satu tersisih dan merintangi ego yang lainnya – yakni apabila garis-garis batas ego yang kaku tidak memungkinkan gerakan bebas.

 

b. Metode-metode Didaktik

Analisis Transaksional menekankan domain kognitif,  prosedur-prosedur belajar mengajar menjadi prosedur-prosedur dasar bagi Analisis Transaksional. Para anggota kelompok-kelompok Transaksional diharapkan mengenal analisis structural dengan mengetahui landasan-landasan perwakilan ego. Seringkali dianjurkan beberapa buku, mengikuti konferensi-konferensi dan pendidikan-pendidikan yang berkaitan dengan Analisis Transaksional.

 

c. Analisis Transaksional

Analisis transaksional pada dasarnya adalah suatu penjabaran atas apa yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang terhadap satu sama lain. Apapun yang terjadi di antara orang-orang melibatkan suatu transaksi di antara perwakilan-perwakilan ego mereka. Ada tiga tipe transaksi: komplementer (seseorang memperoleh respon yang diperkirakan diberikan perwakilan ego orang lain), menyilang (respon yang diterima tidak diharapkan diberikan pada suatu pesan), dan terselubung ( transaksi yang kompleks, lebih dari satu perwakilan ego terlibat serta adanya pesan terrselubung pada orang lain).

 

d. Kursi Kosong

Klien diminta untuk membayangkan bahwa seseorang sedang duduk di sebuah kursi dan sedang berdialog. Prosedur ini member kesempatan pada klien untuk menyatakan pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan sikap-sikapnya selama dia menjalankan peran-peran perwakilan-perwakilan ego-nya. Teknik kursi kosong dapat digunakan oleh orang-orang yang mengalami konflik-konflik internal yang hebat guna memperoleh fokus yang lebih tajam dan pegangan yang kongkret bagi upaya pemecahan.

 

e. Permainan Peran

Dalam terapi kelompok, seseorang anggota kelompok memainkan peran sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber masalah bagi anggota lainnya, dan ia berbicara kepada anggota tersebut. Bentuk permainan lainnya adalah permainan menonjolkan gaya-gaya yang khas dari perwakilan ego yang konstan, atau permainan tertentu lainnya agar memungkinkan klien memperoleh umpan balik tentang tingkah laku sekarang dalam kelompok.

 

f. Percontohan Keluarga

Klien diminta untuk membayangkan suatu adegan yang melibatkan banyak orang dalam kenangan masa lalu termasuk diri klien. Klien menjadi sutradara, produser, sekaligus aktor, menempatkan anggota kelompok dan dirinya pada situasi yang dibayangkan. Diskusi, tindakan dan evaluasi dilakukan untuk mempertajam kesadaran pada suatu situasi yang spesifik dan makna-makna pribadi yang masih berlaku.

 

g. Analisis Upacara, Hiburan, dan Permainan

Penyusunan waktu adalah bahan yang penting bagi diskusi dan pemeriksaan karena ia merefleksikan putusan-putusan tentang bagaimana menjalani transaksi dengan orang lain dan memperoleh belaian. Orang yang menyusun waktunya terutama dengan upacara-upacara dan hiburan-hiburan boleh jadi mengalami kekurangan belaian dan karenanya dia kekurangan keakraban dalam transaksinya dengan orang lain.

 

h. Analisis Permainan dan Ketegangan

Analisis permainan-permainan dan ketegangan-ketegangan adalah suatu aspek yang penting  bagi pemahaman sifat transaksi-transaksi dengan orang lain. Hasil dari kebanyakan permaian adalah perasaan tidak enak yang dalami oleh pemain. Penting bagi terapis untuk mengamati dan memahami mengapa permainan-permainan yang dimainkan, apa hasil permainan-permainan itu, belaian-belaian apa yang diterima, dan bagaimana permainan-permainan itu membuat jarak dan menghambat keakraban. Belajar untuk memahami ‘penipuan’ oleh seseorang dan bagaiman kaitan penipuan itu dengan permainan-permainan, putusan-putusan dan skenario-skenario kehidupan adalah suatu proses yang penting dalam terapi Analisis Transaksional.

 

i. Analisis Skenario

Analisis scenario adalah bagian dari proses terapi yang memungkinkan pola hidup yang diikuti oleh individu bisa dikenali. Analisis scenario membuka alternative-alternatif baru yang menjadikan orang bisa memilih sehingga dia tidak lagi merasa dipaksa memainkan permainan-permainan mengumpulkan perasaan-perasaan untuk membenarkan tindakan tertentu yang dilaksanakan menurut plot scenario. Analisis scenario bisa dilaksanakan dengan menggunakan suatu daftar scenario yang berisi item-item yang berkaitan dengan posisi-posisi hidup, penipuan-penipuan, permainan-permainan – yang semuanya merupakan komponen-komponen fungsional utama pada scenario kehidupan individu.

 

Dalam terapi dengan pendekatan Analisis Transaksional salah satu kekurangannya adalah pengabaian terhadap asppek-aspek emosional. Karena itulah pengintegrasian sejumlah konsep dan teknik terapi Gestalt dengan konsep-konsep dan teknik-teknik Analisis transaksional merupakan cara yang paling baik.

 

 

 

 

Sumber :

Correy, Gerald. 2003. Teori dan praktek dari konseling dan psikoterapi. Edisi ke 4. Diterjemahkan oleh : E. Koeswara. Bandung : Refika Aditama.