Arsip Kategori: Fiksi

Tulisan yang berisi cerita fiksi

Aku Senang, Kamu Kesal?

Tugasku belum selesai tapi aku sudah bosan. Sepertinya lebih menarik mengerjai gadis yang duduk di sebelahku, daripada mengerjakan tugas. Kurebut pensil dari tangannya.

“Dio, pensil.” Tangannya menengadah sambil melihatku tajam sampai alisnya bertaut. Bukannya aku kembalikan, pensil itu malah aku mainkan. Menekan kepalanya sampai grafit keluar memanjang mirip suntikan. Dia tambah kesal dan memanggilku dengan nada tinggi, ditambah omelan cempreng dan cubitan di tanganku. Kupingku sakit, tanganku juga, tapi aku senang membuatnya kesal.

Sampai akhirnya dia menyerah, melipat tangannya dengan kesal. “Kalo kamu bercanda terus, kapan selesainya?!”

“Nggak apa-apa, jadikan kita bisa lebih lama berduaan,” godaku sambil tersenyum genit. Mukanya memerah. Entah karena malu atau makin marah. “Makanya mintanya yang sopan, ‘Sayang balikin pensilnya dong,’ gitu!”

“Ish, sekelompok sama pacar malah bikin darah tinggi!”

.

End

.

#FiksiLaguku _ Call Me Baby – EXO

Iklan

Pesan Cinta Dari Macet

.
Mungkin puncak arus balik akan terjadi besok, di hari keempat setelah lebaran. Prediksiku sih begitu, yah, lebih tepatnya harapan. Makanya kami memutuskan berangkat kembali ke Depok pagi hari ini.

Kakek, Nenek, dan beberapa saudaraku yang masih tinggal mengantar kepergian kami di depan rumah. Kami pamit pulang sekaligus mohon doa supaya selamat sampai tujuan. Setelah acara perpisahan singkat serta semua barang-barang bawaan masuk, tinggal orang-orangnya yang masuk. Paman di depan kemudi, Ayah di sebelah Paman, di bagian tengah Ibuku dan Adik laki-lakiku yang sudah kelas 6 tapi masih manja, dan di belakang aku dan Adik perempuanku yang berjarak tiga tahun lebih muda.

Rasanya ada yang aneh. Ada perasaan tidak enak. Sensasi itu terasa di perut. Bukan, bukan mabuk perjalanan. Baru juga lima belas menit, mana mungkin. Aku sangat ingin pulang, ingin sekali. Purwokerto kan kampung kedua orang tuaku, kalau kampung halamanku itu ya di Depok. Terbesit bahwa ini adalah pertanda buruk. Ah, tapi jangan sampai terjadi! Buru-buru aku baca doa supaya perjalanan kami diberi kelancaran dan keselamatan sampai tujuan.

“Alah, iya!” Ayah tiba-tiba berseru.

Aku melongo bingung tapi tetap diam menunggu kelanjutannya. Ayah masih geleng-geleng sambil menyeringai tak jelas.

“Kenapa sih, Mas?” tanya Paman yang konsentrasinya jadi terganggu.

“Kayaknya dompetku ketinggalan,” kata Ayah. Desahan kesal dan tidak percaya dilemparkan pada Ayah. Pantas saja dari tadi aku perhatikan Ayah gelisah sejak berangkat.

Mobil menepi sebentar supaya Ayah bisa leluasa mencari keberadaan dompetnya di tas. Daripada tergesa kembali ke rumah nenek, lebih baik dicek dulu di dalam tas dan mobil. Siapa tahu terselip, jadi tidak perlu putar balik dan mengulangi start.

Yah, tapi dasar apes! Dompetnya tidak ketemu, terpaksa putar balik.
.

Setelah kami kembali mengambil dompet perjalanan langsung dilanjutkan. Ternyata jalanan sudah mulai ramai dengan kendaraan, terjadi sendatan di beberapa titik jalan. Pamanku memilih jalanan pedesaan untuk menghindari kemacetan di jalan-jalan utama. Pamanku ini dulunya supir travel, jadi tahu banyak tentang jalan-jalan tikus yang bisa di tempuh.

Jalan yang kami lalui lumayan juga. Kami melewati jalan yang di kanan dan kirinya terhampar sawah hijau. Kemudian melewati hutan, ah, khayalanku langsung lari menyelusup di sela-sela pepohonan karena teringat film Twilight. Menyusuri jalan di pinggir perlintasan kereta api. Sesekali kami beradu kecepatan dengan beberapa kereta yang melintas. Dan sekarang menyusuri pinggir sungai yang membelah jalan dengan kawasan perkampungan.

“Bu, Ipo mau pipis.”

Aku bisa mendengar Adik laki-lakiku berbisik pada Ibu.

“Ipo mau pipis. Ada SPBU nggak, ya?” tanya Ibu.

Tanpa mengalihkan pandangan dari jalan Paman bilang, “Sebentar lagi, nanti kalau sudah keluar jalan ini. Di jalan besar.”

Karena Ipo dijanjikan toilet di SPBU, jadi dia bersabar sejenak menahan hasrat untuk buang air kecil. Tapi meter demi meter jalan yang kami lalui, sepertinya belum ada tanda-tanda jalan besar. Sungai yang kami susuri juga tak kunjung habis. Paman sudah berkali-kali bilang “sebentar lagi”, tapi “sebentar lagi”-nya itu sampai kapan? Aku juga jadi ikutan gelisah lama-lama.

“Ipo, kencing di pinggir sungai saja, ya?” tawar Ayah yang kasihan melihat Ipo.

“Enggak, ah.”

“Nggak apa-apa,” Ayah meyakinkan Ipo.

“Tapi Ipo juga pengen itu…”

Waduh… Aku dan Adik perempuanku saling tatap sambil tertawa geli. Sementara tanda-tanda SPBU belum muncul, kebutuhan Ipo semakin banyak dan mendesak. Kasihan juga, tapi mana bisa aku tahan untuk tidak menertawainya.

“Yaudah, di pinggir kali saja. Tuh, banyak jamban.” Adik perempuanku si Kinong tertawa meledek.
Saran Kinong ini ada benarnya walaupun lebih kental unsur menggoda Ipo. Semuanya memberikan dukungan atas saran Kinong. Kecuali Ipo yang mukanya makin pucat dan meracau tidak jelas. Wajarlah, anak jaman sekarang mana ada sih yang mau buang air di jamban?

Bayangkan! Hanya ditutupi bilik bambu di tengah alam terbuka. Berpijak di batang bambu di atas aliran sungai. Bagaimana kalau ada kepala buaya nimbul di permukaan? Hiiiiyyy…

Ck, kalau sudah begini jadi makin kangen rumah. Bisa buang air dengan nyaman, mandi yang bersih, dan tanpa harus ditahan-tahan atau nunggu antrean.

Syukurlah, ada pasar tradisional di jalan yang kami lalui. Ada toilet umum yang bisa digunakan Ipo untuk setoran. Selain Ipo, semuanya juga buang air kecil di sana supaya tidak kebelet di jalan nantinya.
.

Setelah sekitar tujuh jam perjalanan kami sampai di daerah Garut. Ternyata arus kendaraan sudah mulai macet. Aku mendekatkan wajahku ke jendela sampai menempel lekat di kaca untuk melihat antrean kendaraan. Macet parah. Bosan.

Beberapa menit mobil tidak bergerak, kemudian jalan semeter, lalu berhenti lagi, jalan lagi semeter. Begitu seterusnya sampai kepalaku pusing. Makin pusing dan berdenyut setiap pedal rem diinjak. Huh, lebih baik tidak usah jalan sama sekali daripada bikin otakku terguncang.

Hari mulai gelap. Arus kendaraan juga mulai merayap, kemudian lancar, merayap, lancar merayap dan bertemu kemacetan lagi. Tapi Garut tak kunjung kami lalui. Kami beristirahat sejenak melepas lelah di tempat peristirahatan. Toiletnya lumayan bersih di sini. Sayangnya makanannya kurang enak. Bakso yang kumakan di sini adalah bakso yang paling tidak enak yang pernah kumakan. Tapi lumayan untuk mengganjal perut.

Sambil mengunyah bakso yang rasanya seperti sandal karet, aku menatap ke arah jalanan. Kendaraan tampak masih mengular. Lampu-lampu kendaraan seperti lampu hias yang ditata memanjang. Sepeda motor yang melesat jadi tampak seperti kunang-kunang. Pikiranku mulai kembali jernih. Timbul pikiran aneh yang membuat senyuman bodoh di wajahku. Ini sedikit serius tapi juga konyol, maka tidak ingin aku ceritakan pada keluargaku. Meskipun ini berhubungan dengan mereka tapi kurang tepat rasanya untuk diungkapkan sekarang.

Aku jadi mengerti kenapa ada istilah home dan house dalam bahasa Inggris.

Kami kembali dari rumah nenek ke rumahku. Rumahku dan rumah nenek hanyalah simbol. Rumah yang sebenarnya ada bersamaku selama perjalanan, yaitu keluargaku. Perjalanan inilah yang membuatnya rumah menjadi utuh.

Perjalanan ini membuat kita terkurung dalam satu mobil yang sama dengan waktu yang lama. Biasa mengobrol bersama dari hari biasanya lebih lama. Saat hari-hari biasa aku dan adik-adikku memenjarakan diri di kamar masing-masing bersama gadget, tanpa tahu dan tidak mau tahu di mana dan sedang apa Ayah dan Ibu. Satu sama lain tidak peduli jika salah satu ingin ini atau ingin itu. Tapi perjalanan ini mengingatkan lagi bahwa keinginan dan kebutuhan tiap-tiap anggota keluarga selayaknya diketahui bersama.

Meskipun yang ketinggalan adalah dompet ayah, tapi kami semua kembali bersama. Meskipun sesuatu hal itu adalah tanggung jawab salah satu orang, tapi kami semua juga harus siap membantunya karena kami adalah keluarga dan kami harus selalu bersama. Meskipun yang kebelet buang air hanya Ipo, tapi kami ikut gelisah. Perasaan Ipo seolah menjalar begitu saja pada semuanya. Kami semua seolah terhubung. Perasaan otomatis seperti itu yang sudah lama tidak kami rasakan karena tenggelam dengan aktivitas sehari-hari.

Itu semua hanya secuil dan terlalu sederhana, tapi memberikan sedikit pencerahan. Aku berharap kami bisa terhubung di setiap peristiwa. Peristiwa yang lebih dari sekadar ketinggalan dompet atau kebelet buang air. Peristiwa yang mengantarkan kami pulang ke keluarga yang hangat.
.
Selesai

#KisahPulang @KampusFiksi

KANGEN

Andai kamu tahu, betapa senangnya aku bisa menemuimu, pasti kamu menyambutku hangat. Aku tahu kamu berusaha terlihat anggun dan bijaksana, tapi sayang, itu gagal. Menurutku, kamu manis dan imut. Sekarang kita bisa duduk berhadapan, hanya dipisahkan oleh meja kayu. Aku bisa melihat helain rambut di alis matamu yang rapi. Pulasan eyeliner yang tipis membuat matamu semakin jeli, tapi tatapan matamu hanya seperti itu saja, datar.

Apakah dalam hatimu ada rasa marah, sedih, atau sama senangnya denganku? Hehe, entahlah, aku tidak bisa menebak dan aku jadi gugup karena hal itu. Tanganku terlipat di atas meja seperti murid SD, kakiku bergoyang naik turun seolah terjadi gempa vulkanik di lantai yang kupijak. Celana abu-abu yang kukenakan makin kusut.

“Saya kecewa sama kamu,” ucapnya tajam.

Ternyata kamu kecewa. Yah, aku harus berbuat apa supaya kamu tidak kecewa? Aku cuma bisa menjambak-jambak rambutku yang kaku sambil tersenyum kecut. Aku membisu. Tidak ada jawaban, karena yang kamu ucapkan bukan pertanyaan.

“Kamu harusnya bisa jaga tingkah laku, pikir dulu sebelum bertindak. Apa itu perbuatan baik, apa itu perbuatan jahat, apa perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak?! Kalau kamu ada masalah sama temanmu atau soal sekolah kan bisa dibicarakan baik-baik, kalau memang masalahnya sulit bisa minta bantuan ke saya atau guru yang lain.” Menyebalkan! Kamu bicara terlalu formal. Apa karena kita mengenakan seragam masing-masing? Apa karena sekarang kita di sekolah?

“Denis sama Keshi pacaran, Bu. Kata Ibu, di sekolah nggak boleh pacaran.”

Dahimu mengkerut, bibirmu terkatup rapat, pasti kamu kesal. Aku tahu, kamu pasti khawatir tentang arah pembicaraan kita.

“Tadinya saya nggak mau kasar kok, Bu. Saya cuma ngingetin, tapi Denis keburu sewot. Yaudah, terpaksa pukul-pukulan.”

“Hmm… Masalahnya, kesalahan kamu bukan soal Denis saja. Ada laporan dari guru-guru, katanya kamu jadi biang onar. Saya tahu kamu anak baik, tapi kenapa akhir-akhir ini buat masalah?”

“Harus saya jawab jujur?” Aku tersenyum supaya kamu tersenyum.

Tapi nihil. Tidak ada senyuman, tidak ada jawaban. Bibir kamu terkunci rapat.

“Saya kangen ketemu Ibu.”

.

.

.

Tantangan Kampus Fiksi #FiksiLaguku

Crooked (G-Dragon)

_sudah disunting setelah dikomentari Mimin Kampus Fiksi_

Cuma Fangirl…

 

Hehe… cerpen pendek yang isinya curhatan…

Buat yang gak suka Korea gak usah baca dari pada pusing… Hehe…

 

(^ _ ^)

 

“Gak bosen-bosen,” celetuk ibu waktu liat anaknya melotot di depan laptop.

Santi cuma nyengir tanpa ada niatan untuk melirik ke ibunya. Begitulah kelakuan Santi kalau udah mantengin video boyband favoritnya, Super Junior. Mirip kayak orang yang lagi dihipnotis. Apapun yang mengganggu dia nggak peduli.

Ibu Santi sebenarnya kurang suka dengan perubahan anaknya yang dulu kalem jadi nggak karuan gara-gara kena virus K-Pop. Santi sering lupa waktu plus teriak-teriak kalau udah nonton dvd Korea. Nabung beratus-ratus ribu malah sampe nembus angka jutaaan cuma buat beli tiket konser, majalah atau dvd Korea. Padahal uang jajannya juga nggak banyak, dan Santi harus nahan lapar di kampus, sepatu gembel, tas gembel, dia nggak peduli. Untung Santi nggak suka majang poster, jadi cat tembok aman. Sedihnya, ibu Santi nggak cuma punya satu anak yang kena demam K-Pop. Adiknya Rima juga seorang K-Popers.

Santi sama Rima itu akur banget. Bagaimana nggak akur?! Sama-sama ELF, fans-nya Suju. Awal suka sama suju pun sama. Sama-sama suka Kim Heechul, terus sekarang suka sama Lee Sungmin. Paling ributnya masalah Sungmin. Rima nggak rela kakaknya suka Sungmin, padahal yang pertama suka Sungmin itu Santi. Rima sering nyuruh Santi biar suka Kyuhyun.

Ngomong-ngomong soal Kyuhyun, dia banyak yang suka. Yang ngaku nggak suka Suju aja sering bilang Kyuhyun tuh keren. Di dunia maya juga banyak banget fanfiction yang tokoh utamanya si Cho Kyuhyun itu. Ayu teman dekat Santi salah satunya. Ayu yang akrab dipanggil Ayuyung sama Santi, awalnya nggak suka Suju tapi akhirnya dia ketularan juga.

 

(^ _ ^)

 

Di tengah riuhnya suasana Food Court salah satu pusat perbelanjaan modern di Depok, dua cewek sedang asyik cekikikan di depan sebuah laptop. Meskipun cuma ada dua manusia di meja itu, obrolannya heboh, seakan-akan ada sepuluh orang di situ. Kadang pengunjung yang lain menoleh karena suara tawa mereka. Bisa tebak apa yang mereka omongin?? Yup, Suju, K-Pop, Kyuhyun dan sebangsanya.

“Ayuyung… Santi lagi falling in love, nih…”

“Sama siapa?” Ayu langsung antusias. Soalnya mereka jarang ngomongin soal cinta-cintaan.

“Sama Kyuhyun…” Ayu langsung kecewa.

“Bohong!” ujar Ayu ketus. Santi bingung kenapa Ayu jadi mirip kelakuannya kayak Rima, padahal biasanya dia nggak pelit soal Kyuhyun.

“Ih, apanya yang bohong, kan cuma bilang suka sama Kyuhyun, jangan cemburu gitu dong!”

“Bohong! Siapa?” tukas Ayu lagi dengan ketus.

“Kyuhyun…” Santi nyebut nama Kyuhyun dengan penekanan supaya Ayu percaya.

“Ck, gak seru nih…”

Beberapa detik kemudian Santi baru mengerti maksud dari tanggapan Ayu. “Oh, aku beneran jatuh cinta sama Kyuhyun karena suaranya. Baru lagi suka sama lagu I Miss You… Enak banget…”

“Yang realistis, dong!”

“Huh?”

“Suka tuh sama orang beneran…”

“Kyuhyun kan orang beneran!”

“Tapi dia kan artis!”

“Cinta mah sama siapa aja boleh.”

“Dasar!”

Ayu langsung fokus lagi ke laptopnya. Membuka folder demi folder yang tersimpan di sana, mencari video terbaru Kyuhyun yang dia punya. Begitu ketemu dia langsung buka dan nunjukkin video itu ke Santi.

“Sedih deh ngeliat Kyu begitu…” gerutu Ayu. Saat itu sedang diputar video sebuah reality show. Video Kyuhyun yang memeragakan bagaimana cara dia melihat gadis cantik saat ada di atas panggung.

“Emang kenapa yung?”

“Berarti dia sering begitu dong, kalo lagi manggung terus ada cewek cantik dia begitu… Sedih aku, San…”

“Nah, berarti Ayuyung yang nggak realistis!”

“Kok?”

“Cemburu gitu… dia kan bukan pacar kita…”

“Tapi aku iri… Harusnya kita noton langsung, nanti dia begitu ke kita.”

“Iya, bener…”

Yah… begitulah yang namanya fangirl. Bilang cinta sama artis, ngaku-ngaku pacar, istri bahkan anak dari artis yang dia suka. Kadang ketawa-tawa nggak jelas, teriak-teriak, nangis atau marah dan beringas.

 

(^ _ ^)

 

Geureul ijji mothaesuh apahanayo

geudaega isseul jariga yuhgin aningayo

Nareul wihan guhramyuhn chameul piryo uhbjyo

uhnjengan kkeutnabuhrilteni

 

Nae sarangi jejariro oji mothago

heullin noonmool mankeum muhlli ganeyo

Naneun ijuhyahajyo geudae nuhmoo geuriwuh

nareul apeuge haljineun mollado ijuhyo

 

Lirik lagu I Miss You dari SM The Ballad mengalun lirih dari headset yang terpasang di telinga Santi, sebagai lagu pengantar tidur. Sementara itu pikirannya penuh dengan berbagai angannya.

“Kok gue gak bisa suka sama orang yang ada di deket gue ya? Kalo bukan Sungmin paling Kyuhyun atau anggota Suju yang lain. Sedih amat kayaknya, kan udah hampir 21, harusnya udah ada calon suami.”

“Gue masih suka kok sama cowok. Tapi emang sama Kyuhyun, tapi lebih suka lagi sama Sungmin. Meskipun di mata gue mereka udah nggak sesempurna awalnya, tapi tetep gak bisa berenti. Dan bukan karena mereka artis dari Korea, terus kita yang orang Indonesia gak bisa cinta sama dia. Dia ada kok wujudnya, bukan cuma tokoh hayalan kayak di dongeng atau kartun. Dia lawan jenis gue kok, berarti kan gue normal.”

“Tapi emang sebatas sampe situ aja… Harapan bisa pacaran atau nikah dan sebagainya, paling cuma jadi fantasi doang… Jadi gue sebagai fans mereka tetep menganggap perasaan itu adalah salah satu jenis perasaan cinta. Cinta tak sampai… Hehehe…”

 

Santi tak kunjung terlelap. Dia putar lagi lagu I Miss You. Menurutnya lagu ini adalah lagu yang paling mewakili perasaannya saat ini.

 

Nae sarangi jejariro oji mothago

heullin noonmool mankeum muhlli ganeyo

Hanya saja cintaku tampak tak sanggup tuk meraihmu

Sebanyak-banyaknya air mata yang telah mengalir, tetap saja jauh

Naneun ijuhyahajyo geudae nuhmoo geuriwuh

nareul apeuge haljineun mollado ijuhyo

Aku harus melupakanmu, aku sangat merindukanmu

Walau kau tak pernah tahu betapa sakitnya, kukan melupakan

 

Ijuhya haneun guhn jiwuhya haneun guhn

Naegen nuhmoona uhryuhwoon irijyo

Untuk melupakanmu, bahkan untuk menghapusmu

Bagiku sangat sulit tuk melakukannya

 

_END_