Pesan Cinta Dari Macet

.
Mungkin puncak arus balik akan terjadi besok, di hari keempat setelah lebaran. Prediksiku sih begitu, yah, lebih tepatnya harapan. Makanya kami memutuskan berangkat kembali ke Depok pagi hari ini.

Kakek, Nenek, dan beberapa saudaraku yang masih tinggal mengantar kepergian kami di depan rumah. Kami pamit pulang sekaligus mohon doa supaya selamat sampai tujuan. Setelah acara perpisahan singkat serta semua barang-barang bawaan masuk, tinggal orang-orangnya yang masuk. Paman di depan kemudi, Ayah di sebelah Paman, di bagian tengah Ibuku dan Adik laki-lakiku yang sudah kelas 6 tapi masih manja, dan di belakang aku dan Adik perempuanku yang berjarak tiga tahun lebih muda.

Rasanya ada yang aneh. Ada perasaan tidak enak. Sensasi itu terasa di perut. Bukan, bukan mabuk perjalanan. Baru juga lima belas menit, mana mungkin. Aku sangat ingin pulang, ingin sekali. Purwokerto kan kampung kedua orang tuaku, kalau kampung halamanku itu ya di Depok. Terbesit bahwa ini adalah pertanda buruk. Ah, tapi jangan sampai terjadi! Buru-buru aku baca doa supaya perjalanan kami diberi kelancaran dan keselamatan sampai tujuan.

“Alah, iya!” Ayah tiba-tiba berseru.

Aku melongo bingung tapi tetap diam menunggu kelanjutannya. Ayah masih geleng-geleng sambil menyeringai tak jelas.

“Kenapa sih, Mas?” tanya Paman yang konsentrasinya jadi terganggu.

“Kayaknya dompetku ketinggalan,” kata Ayah. Desahan kesal dan tidak percaya dilemparkan pada Ayah. Pantas saja dari tadi aku perhatikan Ayah gelisah sejak berangkat.

Mobil menepi sebentar supaya Ayah bisa leluasa mencari keberadaan dompetnya di tas. Daripada tergesa kembali ke rumah nenek, lebih baik dicek dulu di dalam tas dan mobil. Siapa tahu terselip, jadi tidak perlu putar balik dan mengulangi start.

Yah, tapi dasar apes! Dompetnya tidak ketemu, terpaksa putar balik.
.

Setelah kami kembali mengambil dompet perjalanan langsung dilanjutkan. Ternyata jalanan sudah mulai ramai dengan kendaraan, terjadi sendatan di beberapa titik jalan. Pamanku memilih jalanan pedesaan untuk menghindari kemacetan di jalan-jalan utama. Pamanku ini dulunya supir travel, jadi tahu banyak tentang jalan-jalan tikus yang bisa di tempuh.

Jalan yang kami lalui lumayan juga. Kami melewati jalan yang di kanan dan kirinya terhampar sawah hijau. Kemudian melewati hutan, ah, khayalanku langsung lari menyelusup di sela-sela pepohonan karena teringat film Twilight. Menyusuri jalan di pinggir perlintasan kereta api. Sesekali kami beradu kecepatan dengan beberapa kereta yang melintas. Dan sekarang menyusuri pinggir sungai yang membelah jalan dengan kawasan perkampungan.

“Bu, Ipo mau pipis.”

Aku bisa mendengar Adik laki-lakiku berbisik pada Ibu.

“Ipo mau pipis. Ada SPBU nggak, ya?” tanya Ibu.

Tanpa mengalihkan pandangan dari jalan Paman bilang, “Sebentar lagi, nanti kalau sudah keluar jalan ini. Di jalan besar.”

Karena Ipo dijanjikan toilet di SPBU, jadi dia bersabar sejenak menahan hasrat untuk buang air kecil. Tapi meter demi meter jalan yang kami lalui, sepertinya belum ada tanda-tanda jalan besar. Sungai yang kami susuri juga tak kunjung habis. Paman sudah berkali-kali bilang “sebentar lagi”, tapi “sebentar lagi”-nya itu sampai kapan? Aku juga jadi ikutan gelisah lama-lama.

“Ipo, kencing di pinggir sungai saja, ya?” tawar Ayah yang kasihan melihat Ipo.

“Enggak, ah.”

“Nggak apa-apa,” Ayah meyakinkan Ipo.

“Tapi Ipo juga pengen itu…”

Waduh… Aku dan Adik perempuanku saling tatap sambil tertawa geli. Sementara tanda-tanda SPBU belum muncul, kebutuhan Ipo semakin banyak dan mendesak. Kasihan juga, tapi mana bisa aku tahan untuk tidak menertawainya.

“Yaudah, di pinggir kali saja. Tuh, banyak jamban.” Adik perempuanku si Kinong tertawa meledek.
Saran Kinong ini ada benarnya walaupun lebih kental unsur menggoda Ipo. Semuanya memberikan dukungan atas saran Kinong. Kecuali Ipo yang mukanya makin pucat dan meracau tidak jelas. Wajarlah, anak jaman sekarang mana ada sih yang mau buang air di jamban?

Bayangkan! Hanya ditutupi bilik bambu di tengah alam terbuka. Berpijak di batang bambu di atas aliran sungai. Bagaimana kalau ada kepala buaya nimbul di permukaan? Hiiiiyyy…

Ck, kalau sudah begini jadi makin kangen rumah. Bisa buang air dengan nyaman, mandi yang bersih, dan tanpa harus ditahan-tahan atau nunggu antrean.

Syukurlah, ada pasar tradisional di jalan yang kami lalui. Ada toilet umum yang bisa digunakan Ipo untuk setoran. Selain Ipo, semuanya juga buang air kecil di sana supaya tidak kebelet di jalan nantinya.
.

Setelah sekitar tujuh jam perjalanan kami sampai di daerah Garut. Ternyata arus kendaraan sudah mulai macet. Aku mendekatkan wajahku ke jendela sampai menempel lekat di kaca untuk melihat antrean kendaraan. Macet parah. Bosan.

Beberapa menit mobil tidak bergerak, kemudian jalan semeter, lalu berhenti lagi, jalan lagi semeter. Begitu seterusnya sampai kepalaku pusing. Makin pusing dan berdenyut setiap pedal rem diinjak. Huh, lebih baik tidak usah jalan sama sekali daripada bikin otakku terguncang.

Hari mulai gelap. Arus kendaraan juga mulai merayap, kemudian lancar, merayap, lancar merayap dan bertemu kemacetan lagi. Tapi Garut tak kunjung kami lalui. Kami beristirahat sejenak melepas lelah di tempat peristirahatan. Toiletnya lumayan bersih di sini. Sayangnya makanannya kurang enak. Bakso yang kumakan di sini adalah bakso yang paling tidak enak yang pernah kumakan. Tapi lumayan untuk mengganjal perut.

Sambil mengunyah bakso yang rasanya seperti sandal karet, aku menatap ke arah jalanan. Kendaraan tampak masih mengular. Lampu-lampu kendaraan seperti lampu hias yang ditata memanjang. Sepeda motor yang melesat jadi tampak seperti kunang-kunang. Pikiranku mulai kembali jernih. Timbul pikiran aneh yang membuat senyuman bodoh di wajahku. Ini sedikit serius tapi juga konyol, maka tidak ingin aku ceritakan pada keluargaku. Meskipun ini berhubungan dengan mereka tapi kurang tepat rasanya untuk diungkapkan sekarang.

Aku jadi mengerti kenapa ada istilah home dan house dalam bahasa Inggris.

Kami kembali dari rumah nenek ke rumahku. Rumahku dan rumah nenek hanyalah simbol. Rumah yang sebenarnya ada bersamaku selama perjalanan, yaitu keluargaku. Perjalanan inilah yang membuatnya rumah menjadi utuh.

Perjalanan ini membuat kita terkurung dalam satu mobil yang sama dengan waktu yang lama. Biasa mengobrol bersama dari hari biasanya lebih lama. Saat hari-hari biasa aku dan adik-adikku memenjarakan diri di kamar masing-masing bersama gadget, tanpa tahu dan tidak mau tahu di mana dan sedang apa Ayah dan Ibu. Satu sama lain tidak peduli jika salah satu ingin ini atau ingin itu. Tapi perjalanan ini mengingatkan lagi bahwa keinginan dan kebutuhan tiap-tiap anggota keluarga selayaknya diketahui bersama.

Meskipun yang ketinggalan adalah dompet ayah, tapi kami semua kembali bersama. Meskipun sesuatu hal itu adalah tanggung jawab salah satu orang, tapi kami semua juga harus siap membantunya karena kami adalah keluarga dan kami harus selalu bersama. Meskipun yang kebelet buang air hanya Ipo, tapi kami ikut gelisah. Perasaan Ipo seolah menjalar begitu saja pada semuanya. Kami semua seolah terhubung. Perasaan otomatis seperti itu yang sudah lama tidak kami rasakan karena tenggelam dengan aktivitas sehari-hari.

Itu semua hanya secuil dan terlalu sederhana, tapi memberikan sedikit pencerahan. Aku berharap kami bisa terhubung di setiap peristiwa. Peristiwa yang lebih dari sekadar ketinggalan dompet atau kebelet buang air. Peristiwa yang mengantarkan kami pulang ke keluarga yang hangat.
.
Selesai

#KisahPulang @KampusFiksi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s