KANGEN

Andai kamu tahu, betapa senangnya aku bisa menemuimu, pasti kamu menyambutku hangat. Aku tahu kamu berusaha terlihat anggun dan bijaksana, tapi sayang, itu gagal. Menurutku, kamu manis dan imut. Sekarang kita bisa duduk berhadapan, hanya dipisahkan oleh meja kayu. Aku bisa melihat helain rambut di alis matamu yang rapi. Pulasan eyeliner yang tipis membuat matamu semakin jeli, tapi tatapan matamu hanya seperti itu saja, datar.

Apakah dalam hatimu ada rasa marah, sedih, atau sama senangnya denganku? Hehe, entahlah, aku tidak bisa menebak dan aku jadi gugup karena hal itu. Tanganku terlipat di atas meja seperti murid SD, kakiku bergoyang naik turun seolah terjadi gempa vulkanik di lantai yang kupijak. Celana abu-abu yang kukenakan makin kusut.

“Saya kecewa sama kamu,” ucapnya tajam.

Ternyata kamu kecewa. Yah, aku harus berbuat apa supaya kamu tidak kecewa? Aku cuma bisa menjambak-jambak rambutku yang kaku sambil tersenyum kecut. Aku membisu. Tidak ada jawaban, karena yang kamu ucapkan bukan pertanyaan.

“Kamu harusnya bisa jaga tingkah laku, pikir dulu sebelum bertindak. Apa itu perbuatan baik, apa itu perbuatan jahat, apa perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak?! Kalau kamu ada masalah sama temanmu atau soal sekolah kan bisa dibicarakan baik-baik, kalau memang masalahnya sulit bisa minta bantuan ke saya atau guru yang lain.” Menyebalkan! Kamu bicara terlalu formal. Apa karena kita mengenakan seragam masing-masing? Apa karena sekarang kita di sekolah?

“Denis sama Keshi pacaran, Bu. Kata Ibu, di sekolah nggak boleh pacaran.”

Dahimu mengkerut, bibirmu terkatup rapat, pasti kamu kesal. Aku tahu, kamu pasti khawatir tentang arah pembicaraan kita.

“Tadinya saya nggak mau kasar kok, Bu. Saya cuma ngingetin, tapi Denis keburu sewot. Yaudah, terpaksa pukul-pukulan.”

“Hmm… Masalahnya, kesalahan kamu bukan soal Denis saja. Ada laporan dari guru-guru, katanya kamu jadi biang onar. Saya tahu kamu anak baik, tapi kenapa akhir-akhir ini buat masalah?”

“Harus saya jawab jujur?” Aku tersenyum supaya kamu tersenyum.

Tapi nihil. Tidak ada senyuman, tidak ada jawaban. Bibir kamu terkunci rapat.

“Saya kangen ketemu Ibu.”

.

.

.

Tantangan Kampus Fiksi #FiksiLaguku

Crooked (G-Dragon)

_sudah disunting setelah dikomentari Mimin Kampus Fiksi_

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s